SELAMAT BERGABUNG DI SITUS INTELEKTUAL MUDA INDONESIA

Situs orang- orang intelektual Muda Indonesia yang ingin menuangkan hasil pemikirannya untuk Kemajuan Bangsa Indonesia ke depannya. Tuangkan pemikiran anda di blog ini. Mari mengawasi dan mengkritik jalannya pemerintahan dan pembangunan di Daerah khususnya dan di Negara Indonesia pada umumnya dari segala sudut pembaharuan. Sehingga di Daerah menjadi Daerah yang maju dan makmur serta menjadi daerah percontohan di Indonesia dan Negara Indonesia menjadi negara yang maju dan kuat perekonomiannya di tengah- tengah peradaban dunia.

Potret Desa Padangbolak

Potret Desa Padangbolak
Sopo Godang Desa Nagasaribu

Rabu, 25 Februari 2009

TRAGEDI AMBON

KRONOLOGI TRAGEDI AMBON-MALUKU BERDARAH

Desember 1998 s.d. Desember 2000

BAGIAN 1-1: SEBELUM AMBON

Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995. Beberapa peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut.1)

15 Juni 1995: Desa berpenduduk Islam, Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga Kristen Desa Tomalahu Timur, pada waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orang yang nama-namanya dicatat oleh MUI.

21 Pebruari 1996 (Hari Raya Iedul Fithri) : Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangan dilakukan oleh warga Tomahalu Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga hari sebelumnya, serombongan orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke Desa Asaude, menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah isi rumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.

18 Nopember 1998: Korem 174 Pattimura didemo. Sejumlah besar mahasiswa Unpatti (Universitas Pattimura) dan UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku), yang dimotori oleh organisasi pemuda dan mahasiswanya menghujat Danrem Kolonel Hikayat. Demonstrasi berlangsung dua hari. Mereka membakar beberapa mobil keamanan, melukai tukang becak, dan merusak serta melempari kaca kantor PLN Cabang Ambon. Jatuh korban luka-luka, baik di pihak mahasiswa maupun kalangan ABRI.

Beberapa bulan sebelumnya, berlangsung desas-desus dan teror. Isu pengusiran orang-orang Bugis-Buton-Makassar (BBM) sudah beredar di tengah masyarakat yang membuat gelisah banyak orang. Mereka kurang bisa membedakan suku Bugis dan Makassar. Kedua suku ini sebenarnya adalah satu. Orang-orang Muslim suku lain (non-Maluku) juga diisukan untuk diusir. Produksi pesanan senjata tajam ditengarai sangat tinggi. Pesanan dilakukan oleh kelompok tertentu.

Isu pengusiran BBM memang berbau SARA, terutama yang menangkut suku dan agama. Entah bagaimana awalnya dari dalam Gereja. yang tepat, isu BBM bertiup dengan kencang dari kalangan Kristen, bahkan kabarnya disuarakan oleh Gereja.

Menjelang akhir Nopember 1998: Sekitar 200 preman Ambon dari Jakarta, yang bekerja sebagai penjaga keamanan tempat judi pulang kampung. Merekalah yang memulai bentrok dengan penduduk Ketapang (Jakarta). Karena umat Islam Jakarta marah, mereka dikepung. Beberapa darinya tewas. Sejumlah besar yang lain diminta masyarakat agar dievakuasi oleh aparat keamanan. Sebagian dari mereka - sekitar 200 orang - inilah yang pulang ke Ambon.

Beberapa 'Test Case' Sebelum Iedul Fithri Berdarah

Setidaknya, ada tiga peristiwa penting yang dapat dianggap sebagai bagian dari tragedi Iedul Fithri berdarah 1999. Ketiga peristiwa itu adalah peristiwa Wailete tanggal 13 Desember 1998, peristiwa Air Bak 27 Desember 1998, dan peristiwa Dobo 14 dan 19 Januari 1999.

Peristiwa-perista di atas adalah sebuah 'test case' yang dinilai berhasil mendeteksi keberanian, persatuan dan kesatuan serta kesiapan Ummat Islam se-Ambon untuk berperang. Kesabaran Ummat Islam yang tengah menyongsong bulan Ramadhan itu dianggap suatu kelemahan terutama penilaian terhadap suku Bugis-Buton-Makassar yang kurang kompak. Atas dasar penilaian demikian itu tampaknya dijadikan peluang untuk mengobarkan Tragedi Iedul Fithri Berdarah. Hal ini terbukti dengan tiba-tiba didatangkan ratusan preman dari Jakarta, eks-konflik Jalan Ketapang, Jakarta sebagai pelaku di lapangan.

Serangan Massa Kristen ke Desa Wailete

13 Desember 1998 : Desa Wailete yang merupakan perkampungan Muslim masyarakat asal Bugis-Buton-Makasar (BBM) diserang oleh warga Kampung Hative Besar (Kristen). Ratusan massa Kristen menyerbu dengan batu, dan membakar kampung Wailete. Serangan dilakukan dua kali pada malam itu dimana tahap kedua dilakukan secara tuntas membakar habis semua rumah sehingga penghuni hanya menyelamatkan diri dengan baju yang melekat di badan saja. Empat rumah dilaporkan terbakar dan satu kios bensin milik orang Bugis terbakar dan meledak. Penduduk desa tersebut mengungsi.2)

Tidak pernah ada kejelasan penyelesaian dalam peristiwa itu. Bahkan polisi tampak ragu menghadapi ancaman warga desa Hative Besar. Keraguan aparat ini tampak jelas sebagai hasil penghujatan selama demo dengan pecahnya insiden Batu Gajah. Dalam rangkaian penghujatan lewat berbagai media massa sebagian berpendapat bahwa oknum Polri telah berhasil digalang untuk melaksanakan rencana mereka. Surat kabar Suara Maluku tidak memberitakan peristiwa besar ini secara proporsional, dua kali pemberitaan yang tidak jelas kemudian menghilang, padahal kasus Batu Gajah diberitakan luar biasa bahkan tulisan-tulisan dengan ungkapan Anjing dan Babi masih berulang selama sebulan.

Ummat Islam yang menjadi panas karena solidaritas Islamiyahnya sebenarnya mengharapkan adanya reaksi protes, pembelaan dan pertolongan yang memadai tetapi hal itu tidak terjadi karena para pemimpinnya memang lemah dan tidak ada tokoh pemersatu. Warga masyarakat desa Hative Besar telah membuktikan secara nyata isu yang berkembang bahwa suku Bugis-Buton-Makassar dan Jawa-Sunda akan diusir dari Ambon.

Setelah aksi pembakaran itu para tokoh desa Hative Besar mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan menerima kedatangan suku Bugis-Buton-Makasar lagi ke desa Wailete, karena itu desa Wailete tidak pernah dibangun lagi, bahkan parapenghuni yang telah melarikan diri itu tak berani mengunjungi bekas kampungnya. Pemerintah daerah tidak memasukanpembakaran desa Wailete ini kedalam program rehabilitasi, dianggap bukan dalam rangka kerusuhan Ambon.3)

Serangan Massa Kristen ke Desa Air Bak Akhir Desember 1998

27 Desember 1998 : Desa Air Bak, yang hanya berpenduduk sekitar 8 keluarga beragama Islam (desa kecil) diserbu warga Desa Tawiri yang mayoritas beragama Kristen. Pertikaian ini diawali ketika ada Babi peliharaan masyarakat Tawiri memasuki kebun masyarakat desa Bak Air, hal seperti ini biasa terjadi. Menghalau dengan lemparan batu saja Babi akan keluar dari kebun. Kali ini, kejadian ini dijadikan masalah oleh orang Kristen Tawiri. Orang-orang Muslim dilempari batu. Tidak ada penyelesaian, malah warga Muslim yang ditahan polisi.

5 Januari 1999 : Di tengah masyarakat beredar isu akan tejadinya kerusuhan pada Hari Raya Iedul Fithri, meski beberapa penyampaian di antaranya dengan bahasa yang disamarkan. Di bagian lain bisa dibaca bagaimana isu itu berkembang di Kampung Batu Gantung Waringin. Seluruh rumah di situ dibakar dan diruntuhkan. Kampung ini dihuni oleh mayoritas orang Bugis.

Tragedi Berdarah di Dobo, Maluku Tenggara

14 Januari 1999 : Kerusuhan pecah di Dobo, kecamatan Pulau Aru (Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara). Korban tewas delapan orang. Penyerangan dilakukan oleh kelompok Kristen tersebut bukanlah yang pertama kali. Sekitar satu bulan sebelumnya sempat terjadi kontak senjata tradisional meski dengan skala yang lebih kecil di tempat yang sama.

19 Januari 1999: Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan pecah lagi di Dobo, setelah umat Islam melaksanakan sholat Ied. Dikabarkan 14 orang terbunuh, 10 orang di antaranya adalah orang Kristen. Sebanyak 55 rumah habis terbakar.

Ketiga peristiwa di atas jelas telah direncanakan sebelumnya dalam rangka mencoba rencana besar mereka, yakni pembantaian Muslim Ambon di Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan Dobo (14/1) layak dianggap sebagai awal meletusnya Kerusuhan Ambon. Cukup banyak anggota TNI yang dikirim ke Dobo sehingga kekuatan TNI di Ambon berkurang dalam jumlah yang berarti. Jumlah sisanya tidak mampu berbuat apa-apa di kota Ambon pada tanggal 19 dan 20 Januari, sebelum datangnya bala bantuan TNI dari tempat lain. Apalagi kemudian, di Dobo, pada Iedul Fithri, juga pecah kerusuhan lanjutan yang cukup besar.4)

Dikaitkan dengan Tragedi Iedul Fithri Berdarah, rentetan ketiga peristiwa di atas harus dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan, atau sebagai 'babak pertama' dari seluruh babak yang berjudul 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Seandainya ummat Islam di Ambon menyatakan protes keras kepada pihak Kristen yang berpura-pura tidak tahu maka mereka akan ragu memasuki 'babak kedua', yaitu adegan 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Dengan kata lain Tragedi Iedul Fithri Berdarah itu belum tentu bisa terjadi karena uji cobanya tidak berhasil, Ummat Islam masih siap dan kompak, siaga menghadapi setiap kemungkinan.

Begitu pula Polri, jika betul-betul profesional dan bersungguh-sungguh dalam menangani kasus di atas, termasuk datangnya ratusan orang kiriman itu, maka peristiwa yang amat menyakitkan Ummat Islam se Indonesia ini mungkin tidak akan terjadi. Begitu juga kegelisahan masyarakat luas akibat munculnya kabar burung bahwa akan ada kekacauan besar ketika Shalat Iedul Fithri. Jadi sesungguhnya tragedi ini merupakan ketidak-profesionalan TNI atau lemahnya TNI akibat penghujatan. Jelas ini merupakan peluang yang mulus bagi golongan untuk merencanakan rencana makarnya.

Marilah kita lihat tragedi ini sebagai salah satu bukti rencana strategis pihak Kristen yang teratur dan terencana, sehingga berhasil demikian baiknya.5)

Catatan kaki :

1.Menyulut Ambon, Sinansari Ecip, hal 48, Mizan 1999

2.Tragedi Ambon, hal 35, Yayasan Al-Mukminun 1999

3.Konsporasi Politik RMS Kristen Menghancurkan Umat Islam,Rustam Kastor, hal 25, Wihdah Press

4.Menyulut Ambon, Sinansari Ecip, hal 51, Mizan 1999

5.Konsporasi Politik RMS Kristen Menghancurkan Umat Islam,Rustam Kastor, hal 27, Wihdah Press

BAGIAN 1-2-2:IEDUL FITHRI BERDARAH 1999 (2/2) - HARI-HARI PEMBANTAIAN BERLANJUT

Hari-hari Pembantaian Berlanjut ...

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku mengeluarkan catatan resmi rentetan peristiwa penting pasca pecahnya Tragedi Iedul Fithri Berdarah, 19 Januari 1999. Dokumen ini ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin MUI, orpol, ormas, tokoh-tokoh Islam di Maluku.

Selain itu, juga ada laporan terperinci berbagai peristiwa tiap hari yang diterima dan kemudian dikeluarkan secara terbatas oleh Pusat Informasi dan Komunikasi Umat Islam, Masjid Al-Fatah Ambon, dan Posko Umat Maluku Tenggara perwakilan Ambon.

Peristiwa-peristiwa penting itu - dari MUI Pusat, Informasi Al-Fatah, dari Posko Ummat Maluku Tenggara - sebagian dirangkum, disunting, dan disajikan di bawah ini.

2 Pebruari 1999 : Insiden terjadi di Terminal Mardika. Seorang penumpang angkot turun dari mobil dengan tidak mau membayar ongkos. Supir dan kernet menagihnya tetapi tetap tidak mau membayar bahkan penumpang tersebut lari. Di saat melarikan diri orang yang melihatnya berteriak 'Copet-copet!' kemudian dikejar massa. Pada saat itu aparat keamanan yang bertugas di pasar mengeluarkan tembakan. Massa semakin panik ditambah lagi Patroli Helikopter juga mengeluarkan tembakan. Tidak berapa lama kemudian, terjadi pengejaran warga Islam di kantor-kantor pemerintah yang berada di wilayah pemukiman Kristen, seperti di Kanwil Depsos Karang Panjang dan Dinas Pertaninan Tanaman Pangan Dati I Maluku di Tanah Tinggi. Pegawai beragama Islam bahkan ada yang diparang di halaman kantornya (Depsos). Tiga karyawan Depkes dicegat ketika pulang melewati SMP Negri I, yang beragama Islam diancam dan ditikam.

11.00 WIT : Enam orang pejabat yang akan menghadiri pertemuan dengan lima Menteri di kantor Gubernur Maluku, di Ambon, terjebak barikade dan diancam dengan kekerasan.

Seorang Bugis dibacok di Gang Singa, Belakang Soya, hingga meninggal.

SMEA Negri I Ambon di Karang Panjang diserang oleh para pemuda dari Pondok Paty. Empat kendaraan roda dua dibakar.

3 Pebruari 1999 : Pagi hari, di Karang Tagepe, Kuda Mati, terjadi perusakan atas empat rumah warga Muslim. Rumah-rumah warga Muslim yang belum dibakar atau dirusak akan diratakan dengan tanah. Para pengungsi dari Karang Tagepe berada di dalam tenda-tenda di lingkungan transmisi RCTI/SCTV Gunung Nona. Mobil dan kendaraan roda dua dibakar. Rumah-rumah telah dibakar atau dirusak.

Makar Kristen di Kairatu dan Pembantaian di Desa Waraloki

Pukul 14.00 WIT : Diadakan jamuan makan 'Patita Damai' warga Kairatu, Rumberu dan Rumaitu di satu pihak dan masyarakat Muslim Kairatu. Ternyata ada rencana jahat pihak Kristen. Mereka datang dengan persenjataan lengkap seperti panah, dan tombak, sehingga suasana pesta itu bukan dijadikan wahana Perdamaian melainkan justru berubah menjadi ajang pertempuran. Dalam insiden itu 4 orang warga Muslim terkena panah. Pertikaian meluas menjadi pembakaran pasar, dan rumah-rumah warga Muslim di sekitar Masjid.

4 Pebruari 1999 : Pukul 05.30 WIT warga Desa Waraloki yang sedang melaksanakan Shalat Shubuh diserang oleh massa Kristen dari Desa Kamariang, Sariawang (orang gunung) dan juga warga Kristem lainnya, dengan formasi penyerangan berbentuk huruf L. Dalam insiden itu 7 orang warga Muslim Waraholi terbunuh, salah satunya adalah gadis cilik berumur delapan tahun. Menurut saksi, gadis cilik ini dianiaya lebih dahulu sebelum dibunuh. Satu jam kemudian penyerang dipukul mundur.

Pukul 07.00 WIT : Terjadi penyerangan kedua yang tidak dicegah oleh aparat keamanan yang dipimpin oleh Letda Sitorus. Perusuh dilepas dan akhirnya lari ke gunung. Warga yang melihat keadaan tersebut berkata agar pelaku perusuh ditembak, tetapi oknum aparat mengatakan bahwa pelurunya telah habis. Dalam insiden itu 52 rumah hancur dan kebanyakan korban adalah orang Buton.

Pukul 10.30 WIT : Kota Kairatu kembali diserang oleh massa Kristen yang datang dari kampung-kampung yang berada di pegunungan, sehingga 40 rumah terbakar.

5 Pebruari 1999 : Pagi hari, kerusuhan kembali terjadi di Kairatu, berupa pembakaran di Kairatu. Masyarakat Desa Pelauw (mayoritas Muslim) bergerak maju menuju Kairatu untuk mengevakuasi masyarakat Muslim. Pada malam harinya, rumah-rumah dan masjid dilempari batu.

Kerusuhan juga terjadi di Dusun Alinong. Sejumlah massa Kristen Kuda Mati menyerang warga Muslim Dusun Alinong. Jalan menuju Karang Tagepe di Kuda Mati dibarikade dengan batang-batang kayu. Sejumlah 25 keluarga minta tolong untuk dievaluasi. Imam Masjid Al-Muqaram Kampung Karang Tagepe (Kuda Mati) dengan istrinya ditemukan meninggal oleh polisi di ruang tamu rumahnya. Tubuhnya terlilit kabel listrik telanjang. Pada pukul 10.00 WIT massa Kristen Kamariang menyerang lagi, tetapi berhasil dihalau.

Desa Batu Merah Diguncang Bom

8 Pebruari 1999 : Pukul 08.00 WIT pertama kalinya Desa Batu Merah dilempari dengan bom-bom rakitan.

13 Pebruari 1999 : Tertangkap 6 orang warga Kristen asal Maluku Tenggara yang melecehkan Islam dengan menghujat Rasulullah dan menulis 'Yesus Maju Terus' pada rumah warga Muslim di simpang tiga Air Besar STAIN-Ahuru.

Pembantaian Muslim di Pulau Haruku, Maluku Tengah

14 Pebruari 1999 : Di Pulau Haruku, Maluku Tengah, warga Kariu yang beragama Kristen dibantu beberapa orang aparat membantai warga Muslim Pelauw. Dilaporkan 15 warga Muslim terbunuh dan 43 lainnya luka berat akibat terkena tembakan dan granat. Tercatat, empat anggota Polisi terlibat dalam aksi penyerangan itu. Mereka adalah Serka Loupatty, Serta Titir Loloby, Serda Hendrik Nandatu dan Latumahina.

Ketegangan Terjadi Lagi di Passo

17 Pebruari 1999 : Pagi hari terjadi lagi ketegangan di Passo. Awalnya sebuah mobil truk dari Hitu menuju Ambon yang dilempari batu. Penghuni Kristen di kiri kanan jalan keluar sambil membawa parang dan panah. Kaca mobil dipecah dan aparat keamanan yang berada di tempat kejadian tidak bereaksi. Menurut keterangan korban, ada barikadi di jalan mulai di Negeri Lama sampai dengan pasar, menggunakan batu, drum, dan batang pohon. Tiap mobil yang lewat penumpangnya ditanyai. Dua orang warga Hitu yang menumpang mobil lain ditahan karena membawa senjata tajam, sementara massa Kristen yang berkumpul di situ - dengan membawa berbagai senjata tajam - dibiarkan begitu saja oleh aparat.

Dua jam kemudian, ada sebuah mobil Kijang menuju Hitu ditumpangi warga Muslim. Pengemudinya dipanah oleh warga Kristen Desa Passo, mobil dilempari. Para penyerang tidak diamankan oleh aparat keamanan yang ada.

Ambon Terus Bergolak

18 Pebruari 1999 : Ambon kembali diguncang bom. Peledakan itu terjadi pada hari Kamis (18/2), pukul 1.00 WIT, dini hari. Smentara itu pemerintah melaporkan ada 81 berkas kasus kerusuhan Ambon yang siap disidangkan dengan menjerat 192 tersangka.

22 Pebruari 1999 : Terjadi bentrokan berdarah antara warga Muslim dan warga Kristen. Peristiwa ini menyusul aksi pembakaran 15 rumah warga Muslim di Batu Merah Dalam, Ambon dan satu buah Masjid di Ihamahu, Maluku Tengah. Sedikitnya 9 orang terbunuh dan puluhan lainnya luka-luka.

23 Pebruari : Puluhan bom dilemparkan ke perkampungan Muslim di Batu Merah Dalam, Kodya Ambon. Puluhan rumah musnah terbakar. Dilaporkan 15 orang terbunuh, 13 orang tidak diketahui nasibnya dan 34 orang luka-luka.

Dikabarkan banyak murid sekolah yang dipulangkan, terutama di Galunggung Batu Merah, Kapaha dan sekitarnya. Seorang ibu hamil berjilbab yang pulang dari pasar ketika melewati Gereja Bethabara, Batu Merah Dalam diejek sekelompok orang, tetapi tidak dihiraukan. Ia sempat ditendang. Ini terjadi pada pukul 09.00 WIT.

Memasuki tengah hari, terjadi kerusuhan di Desa Batu Merah Bawah dengan pelemparan beberapa bom rakitan dari arah Batu Merah Atas. Terjadi juga pembakaran warga Muslim di Dusun Rinjani (Desa Batu Merah).

Sampai akhir Pebruari 1999 banyak terjadi insiden di berbagai tempat. Serang menyerang ini dilakukan dengan lemparan batu, lemparan bom, pemanahan, pencegatan, pemukulan, pembacokan, perusakan, penjarahan dan pembakaran rumah.

Jama'ah Sholat Shubuh Ahuru Dibantai

1 Maret 1999 : Sejumlah massa membantai warga Muslim Ahuru, Kodya Ambon, yang tengah melaksanakan Shalat Shubuh berjama'ah di Masjid Al-Huda. Sembilan orang terbunuh. Dua orang bocah, Mansyur (7) dan Parman (1.5) lolos dari serangan brutal ini. Aparat Polisi diduga terlibat dalam aksi penyerangan ini. Dilaporkan pula bahwa di kawasan Kopertis, Kodya Ambon, juga terjadi penyerangan yang diikuti pembakaran sebuah Masjid. 1)

Passo Bergolak Lagi

8 Maret 1999 : Terjadi kerusuhan lagi di Passo. Lewat tengah hari, sebuah Mikrolet dari Tulehu yang dikawal 3 orang Polisi dihadang massa di tikungan Jalan Baru Passo. Penumpangnya ditanya, agamanya Kristen atau Islam. Pak Sopir diseret keluar, lalu lehernya dibacok. Para penumpangnya juga diseret keluar, dibawa ke rumah warga setempat, alu diinterogasi. Mereka yang mengaku beragama Kristen diminta beribadah menurut cara Kristen.

Pada tengah malam, dilaporkan ada kebakaran di dekat Masjid Jabal Tsur, Benteng Atas. Diterima kabar lain kemudian bahwa yang terbakar adalah satu rumah warga Muslim dan empat rumah warga Kristen. Keadaan dapat dikendalikan aparat keamanan. Masjid Jabal Tsur sejak petang hingga Shubuh menjadi sasaran pelemparan. Esok paginya, sekitar pukul 05.00 WIT, masjid itu dilempari bom, tetapi tidak menimbulkan korban.

Catatan kaki :

1.Menyulut Ambon, Sinansari ecip, hal 97, Konspirasi Politik RMS Kristen, Rustam Kastor, hal 185.

2.Tragedi Ambon, hal. 50, Yayasan Al-Mukminun.

BAGIAN 1-3 : BELUM HABIS AMBON, TERBITLAH TUAL

Belum habis tangis di Ambon, kerusuhan merembet ke kota Tual, Maluku Tenggara, pada akhir Maret 1999. Menurut informasi dari Posko Umat Islam Al-Huriyah 45, kerusuhan itu berawal pada hari Sabtu (27/3). Peristiwa-peristiwa provokasi terjadi di Maluku Tenggara, setelah kerusuhan Dobo (yang juga termasuk Maluku Tenggara). Kerusuhan dipicu oleh sejumlah tulisan yang isinya menghujat Nabi Muhammad SAW, yang terlihat di tembok rumah milik Abdullah Koedubun, salah seorang PNS pada Kantor Bupati Maluku Tenggara.1)

Berikut kronologi tragedi berdarah di Tual, Maluku Tenggara.

28 Maret 1999 : Beberapa pemuda Muslim dipimpin Abdullah Koedubun, yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Muslim Kota Tual (PPMKT) melakukan unjuk rasa di halaman kantor Polisi Maluku Tenggara. Mereka menyampaikan protes atas pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Pukul 16.00 WIT, seorang warga Kristen bernama Ulis Karmomyanan menyebar berita bohong bahwa rumah ibunya di bakar pihak Muslim. Dengan cepat berkembang bahwa umat Kristen Desa Taar dan Un akan menyerang ummat Islam kota Tual. Ketegangan pun tak dapat dihindarkan.

Pukul 20.00 WIT, datang segerombolan warga Kristen Desa Taar ke wilayah Wearhid yang mayoritas beragama Islam. Meski jarak antara Desa Taar dengan Desa Wearhir sekitar 2 km, sekitar 5.000 orang telah siap melakukan penyerangan ke desa-desa Muslim di Tual.

Massa Kristen Desa Taar, melakukan penyerbuan dengan lemparan batu ke arah rumah-rumah penduduk Muslim. Beberapa rumah dikabarkan rusak.

29 Maret 1999 : Sejak pukul 4.00 WIT, sekitar 500 massa Kristen bergerak dari pos pengamanan bersama, yang dikuasainya, menuju rumah Said Rewarin. Merela melempari dan merusak rumah Said sambil berteriak, 'Hidup Jesus', 'Bunuh saudara Karim Renwarin dan adik-adiknya!'. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Pihak Muslim yang mendengar kegaduhan langsung berkumpul dan menghalau massa Kristen sambil berterian 'Allahu Akbar!'. Bentrok fisik pun tidak dapat terelakkan. Akhirnya, massa Kristen berhasil dipukul mundur hingga ke pos pengamanan bersama. Beberapa rumah dilaporkan terbakar.

31 Maret 1999 : Penyerangan massa Kristen terhadap permukiman Muslim di Desa Wearhir kembali terjadi. Bentrok fisik kembali terjadi dengan beberapa korban jatuh dari kedua belah pihak. Hingga siang hari, pihak Muslim berhasil menghalau massa Kristen.

Pukul 15.00-24.00 WIT, situasi mulai mereda. Tidak terjadi pertikaian lagi antara dua belah pihak. Berapa Pastor Katholik berupaya berunding dengan pihak Muslim, dimana mereka meminta agar tempat ibadah orang Katholik tidak diserang, sebab mereka tidak memihak kelompok Kristen. Pihak Muslim menerima permohonan tersebut.

1 April 1999 : Pukul 05.00 WIT Shubuh, terdengar beberapa rentetan tembakan peringatan dari pihak keamanan. Dua jam kemudian terdengar lagi rentetan tembakan yang lebih lama.

Pukul 07.30 WIT, seorang pemuda Muslim bernama Syarif (17) pelajar kelas III SMA di Lodarel Tual, terkena panah besi. Panah tersebut menancam di dada kirinya, lebih kurang 10 cm. Syarif akhirnya terwas. Selain Syarif, jatuh pula korban dari pihak Muslim, yaitu Abdul Ghani Tamber (36), yang dikenal sebagai pimpinan perang, dan Muhammad Taher Penboran (35). Mereka terbunuh akibat tembakan di dekat Gereja Ston, dari laras senjata oknum Polisi bernama Anton dan Miru dari Angkatan Darat.

Pukul 10.00 WIT, terjadi lagi pembakaran rumah-rumah milik warga Muslim, oleh massa Kristen, di komplek kuburan Cina dan belakang PLN lama. Pihak Muslim segera melakukan serangan balasan tersebut. Beberapa aparat keamanan yang bertugas melakukan penembakan terhadap kaum Muslimin, yang mengakibatkan 3 orang terbunuh, sementara beberapa orang luka berat dan ringan. Tidak kurang 70 rumah terbakar.

Pada hari yang sama, terjadi perusakan yang disertai pembakaran rumah-rumah warga Muslim oleh massa Kristen, di komplek belakang Dragun Lama, Kelurahan Ohoijang RT 04/02, yang dipimpin oleh Buce Raharna, PNS Statistik Maluku Tenggara. Seorang pengurus DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Tual, melihat peristiwa tersebut. Buce Rahanra juga berusaha memotong lengan seorang ibu bernama Salija Wattimena, namun atas izin Allah, parang orang kafir itu tidak mampu melukai korban.

Jum'at 2 April 1999 : Terjadi penyerangan dari desa-desa Kristen di Kliwat, Sather, Soindat, dan Weduar terhadap desa Larat yang Muslim, di Kecamatan Key Besar. Akibat serangan ini, umat Islam di desa tersebut memutuskan untuk tidak melaksanakan shalat Jum'at, namun pelaksanaannya diganti dengan sholat Dzuhur berjama'ah di masjid Ar-Rahman.

Sebelumnya, telah terjadi perjanjian damai antara Umat Katholik dengan ummat Islam. Pagi harinya ummat Islam melakukan penjagaan di Gereja Katholik untuk pengamanan ibadah Paskah, dan massa Kristen berhasil dihalau.

Pukul 13.00 WIT : Umat Katholik ganti menjaga umat Islam yang tengah melaksanakan Sholat Dzuhur berjama'ah di Masjid Ar-Rahman Desa Larat, Tual. Ketika ummat Islam baru saja selesai menunaikan shalat Dzuhur berjama'ah, sekelompok massa Kristen tiba-tiba datang menyerang dan melemparkan bom ke dalam Masjid. Jama'ah di dalam Masjid mereka bantai. Seketika itu juga jatuh korban sembilan orang Muslim, termasuk imam Masjid Ar-Rahman H. AH. Rahanyamtel. Seorang jama'ah Masjid bernama Kabir Rahayaan dibantai, tumbuhnya dipotong-potong kemudian dibungkus dengan sajadah dan hambal (karpet). Bungkusan mayat itu lantas diletakkan di bawah mimbar masjid dan disiram minyak, lalu dibakar. Menurut seorang saksi mata, serangan pihak Kristen tampak terorganisir rapi.

3 April 1999 : Massa Kristen dari desa Ohoiet, Ngifut, Ohoirenan, melakukan penyerangan dan pembakaran rumah-rumah warga Muslim di Ohoiwait.

Di hari yang sama, sekitar pukul 05.00 WIT juga tejadi penyerangan disertai pembakaran rumah-rumah milik Muslim di Kecamatan Key Besar, antara lain Desa Sungai, Ngafan, dan Wafol. Sejumlah rumah hangus terbakar, sementara korban luka-luka teridentifikasi sebanyak 3 orang.

Akibat serangan-serangan itu, sekitar seribu orang warga Muslim dari berbagai desa, dan 400 orang dari Desa Larat mengungsi. Mereka diangkut oleh kapal Perang yang besar.

Massa Kristen kembali melakukan serangan tahap kedua, hari itu, di desa Larat. Para perusuh Kristen membakar tidak kurang seratus rumah warga Muslim, sebuah sekolah, sebuah Puskesmas, dan sebuah Masjid. Suasana di Key Besar sangat mencekam. Menurut seorang ketua Posko Satgas MUI Tual, seluruh kecamatan telah menjadi puing, banyak rumah penduduk dibakar secara keji.

5 April 1999 : Serangan demi serangan masih berkelanjutan. Sekitar pukul 20.00 WIT, Kantor Bupati Tual dibakar. Demikian pula sejumlah rumah milik Muslim dibakar oleh para perusuh Kristen. Setelah merusak rumah-rumah itu, mereka melakukan penjarahan besar-besaran, mengangkut segala harta benda yang ada. Setelah itu baru rumah-rumah tersebut dibakar. 2)

Posko Ummat Al-Huriyah 45, Tual, melaporkan pada Palima KODAM TRIKORA, bahwa beberapa desa Katholik di Kecamatan Key Besar : Desa Watsin dan Desa Bombai, telah ikut aktif melakukan penyerangan, pembakaran dan pembunuhan terhadap umat Islam di pesisir Utara Barat, Kecamatan Key Besar. Perbuatan keji ini bertentangan dengan pernyataan sikap Gereja Katholik yang ditandatangani Wakil Uskup Paroki Key Aru di Tual.

Laporan tersebut juga memuat keterlibatan aparat kepolisian Maluku Tenggara dalam memerangi ummat Islam. Para anggota polisi yang beragama Kristen menyebar ke pinggiran kota Tual dengan menyamar sebagai preman dan dipersenjatai untuk melakukan penembakan terhadap Muslim.

Laporan itu juga memuat nama-nama aparat keamanan yang terlibat, yakni : Serda Buce Buluroy (Provost Polres Maluku Tenggara, Serma (Pol) Buce Yambornias, Peltu (Polwan), Ati Titaley, Sema (Pol) Natur Sarkol, Serka (Brimob) Frans Naraha, Serda Miru (anggota Kodim 1503 Maluku Tenggara), dan Serda (Pol) Febby Helyanan. Posko Umat Al-Huriyah 45-Tual, Kabupaten Maluku Tenggara

Ada pun desa-desa Islam yang dibakar, di Maluku Tenggara, menurut laporan tersebut adalah sbb :

No Nama Desa Kecamatan

1 Desa Fas Key Besar

2 Desa Wer Frawav Key Besar

3 Desa Wer Ker Key Besar

4 Desa Wer Ohoinam Key Besar

5 Desa Wearmaf (Kampung Baru) Key Besar

6 Desa Nerong Lama Key Besar

7 Desa Nerong Baru Key Besar

8 Desa Larat Key Besar

9 Desa Elralang Key Besar

10 Desa Sungai Key Besar

11 Desa Ngafan Key Besar

12 Desa Wafol Key Besar

13 Desa Langgiar Baru Key Besar

14 Desa Fer Raja Key Besar

15 Desa Uwat Key Besar

16 Desa Ngan Key Besar

17 Desa Ohiwait Key Besar

18 Desa Mataholat Key Besar

19 Desa Ohibadar Key Kecil

20 Desa Madwat Key Kecil

21 Desa Warbal Key Kecil

22 Desa Ohoirenan Key Kecil

23 Desa Ohoiren Key Kecil

24 Desa Ohoira Key Kecil

25 Desa Letvuan Key Kecil

26 Desa Debut Islaml Key Kecil

27 Desa Tarwa pulau Key Kecil

Sumber : Posko Umat Al-Huriyah 45-Tual, Kabupaten Maluku Tenggara

6 April 1999 : Kerusuhan berlanjut terus di kepulauan Key Besar dan Key Kecil, sedikitnya enam orang terbunuh, akibat serangan senjata tajam dan peluru.

Laporan dari Tim Medis Universitas Indonesia yang berada di Tual, menyebutkan bahwa keadaan hari itu masih dalam status quo. Keadaan sangat mencekam, aparat keamanan sangat kurang jumlahnya.

Dilaporkan pula bahwa para korban dari pihak Muslim yang jatuh tidak bisa dirawat di Rumah Sakit, sebab Rumah Sakit berada dalam penguasaan pihak Kristen. Akhirnya, para korban Muslim di rawat di Masjid bersama-sama dengan para pengungsi yang ditampung di situ.

Catatan kaki :

1.Majalah Sabili, no. 20/VI/21 April 1999.

2.Majalah Sabili, no. 20/VI/21 April 1999.

BAGIAN 1-4 : AMBON JILID DUA, DAN TRAGEDI POKA

Tragedi Ambon berdarah 'jilid dua' adalah nama yang diberikan oleh kalangan Muslim untuk membedakan, bahwa setelah tragedi berdarah pertama pada tanggal 19 Januari 1999 di kota Ambon, dan kebiadaban massa Kristen di Tual Maluku Tenggara, terjadi 'masa tenang' menjelang Pemilihan Umum 7 Juni 1999.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan Ambon 'jilid dua' adalah kerusuhan yang terjadi di Poka, 200 km Timur Laut kota, tanggal 23 Juli 1999. Akan tetapi, Brigjen (Purn) Rustam Kastor, mencatat beberapa peristiwa yang terjadi pada 'masa tenang' Pemilu, medio Mei-Juli 1999, di Kodya Ambon dan sekitarnya. Menurut pendapat kami, rentetan peristiwa-peristiwa yang dicatat oleh Rustam Kastor ini, lebih tepat disebut sebagai kerusuhan Ambon 'jilid dua'. Ada pun kronologisnya kami rangkum sebagai berikut.

11 Mei 1999 : Terjadi pembantaian terhadap dua orang warga Muslim di desa Passo ketika mereka tengah berkendaraan menuju ke Ambon.

12 Mei 1999 : Terjadi penyerangan terhadap rumah-rumah penduduk warga Muslim di dusun Tawiri oleh massa Kristen.

13 Mei 1999 : Empat orang penumpang bus (warga Muslim) tewas dibantai di desa Waai oleh massa Kristen yang sengaja menghadang bus tersebut. Bus tersebut tidak dibakar, tetapi para penumpangnya dikejar massa Kristen, beberapa di antaranya berhasil lolos dari amukan massa.

15 Mei 1999 : Terjadi pembakaran 8 rumah warga Muslim di Batu Merah oleh masa Kristen mardika. Pembakaran ini terjadi akibat pemuda Kristen kampung Mardika merebut obor Pattimura yang dibawa pemuda Islam dari Desa Batu Merah menuju lapangan Merdeka. Di perbatasan Desa Batu Merah, sehingga menimbulkan konflik yang nyaris menimbulkan kerusuhan. Upacara obor Pattimura itu bertepatan dengan peresmian KODAMXVI/PTM oleh Kasad Jendral Subagyo HS.

14 Juli 1999 : Pembakaran sekitar 300 pohon cengkih milik desa Siri-Sori Islam (Pulau Saparua) oleh massa Kristen desa Ulath yang berkelanjutan dengan perkelahian massal yang menimbulkan korban jiwa di pihak Muslim termasuk aparat Kepolisian.

17 Juli 1999 : Masjid Al-Ikhlas kota Saparua, dan beberapa rumah penduduk Muslim dibakar perusuh Kristen.

Kerusuhan di Poka, Juli-Agustus 1999

Sumber dari Posko Umat Islam Masjid Al-Muhajirin Tihu dan PKPU menyebutkan bahwa kerusuhan di Poka berkobar pada tanggal 23 Juli 1999, menyusul pemukulan dan pendudukan rumah-rumah warga Muslim di sana. Tiga buah Masjid, yakni An-Nashr, Al-Ikhlash dan, Al-Muhajirin, jadi sasaran kelompok Kristen. Aparat keamanan dari Brimob, memihak kelompok ikat kepala merah (Kristen), dengan aktif menembakkan senjatanya. Bantuan dari tempat-tempat lain berdatangan, terutama dari tempat-tempat konsentrasi warga Kristen. Berikut kronologisnya.

21 Juli 1999 : Pukul 17.15 WIT terjadi pemukulan terhadap tiga mahasiswa Islam di depan perumahan Departemen Poka. Masalah ini tidak terselesaikan, karena korban tidak berani melapor.

22 Juli 1999 : Terjadi lagi pemukulan terhadap dua mahasiswa Islam di depan Gereja Perumnas Poka. Hal ini dilaporkan pada aparat keamanan, namun penyelesaian laporan tersebut tidak digubris.

23 Juli 1999 : Secara terang-terangan diadakan mobilisasi massa dari Wailela, Poka, Rumah Tiga oleh pihak merah (Kristen) untuk menempati rumah-rumah penduduk di Perumnas Poka, blok I-V.

24 Juli 1999 : Ketika awal Maghrib, mulai terjadi pelemparan terhadap rumah Muslim di Perumahan Poka blok I-V tersebut, kemudian disambut oleh pemuda-pemuda Muslim di sana. Terjadlilah baku lempar.

25 Juli 1999 : Terjadi mobilisasi bantuan pihak merah dari berbagai tempat dan menyerang Perumnas dan BTN Poka. Terjadi pembakaran dan penghangcuran rumah-rumah Muslim. Tiga lokasi yang menjadi sasaran adalah Masjid An-Nashar Poka, Masjid Al-Ikhlash Poka, dan Masjid Al-Muhajirin Perumnas Poka. Lima orang terbunuh, empat di antaranya ditembak aparat, tepat di depan Puskesmas Rumah Tiga.

Drama Perkosaan Warga Muslim Wailiha

Di Dusun Wailiha, arah utara kota Ambon, desa Batu Gong kecamatan Teluk Ambon Baguala Kodya Ambon yang berdampingan dengan kampung Hutumuri (kampung Kristen) terjadi pembantaian dan pemerkosaan yang sungguh tak mengenal rasa perikemanusiaan. Massa Kristen menyerang perkampungan Muslim yang terdiri dari dusun Kisar, Kampung Pisang dan dusun Wailiha yang terletak di Desa Batu Gong. Warga masyarakat khususnya dusun Wailiha awalnya sudah mendengar khabar tentang peristiwa yang terjadi di desa Poka (Perumnas, Wailela, Rumahtiga dan sekitarnya) bahkan pula yang terjadi di kota Ambon. Walhasil kejadian inipun merembek pada kampung Kisar (tetangga Dusun Wailiha) .

Pukul 05.30 WIT, Kampung Kisar habis terbakar oleh kekejian kaum Kristen. Melihat kejadian ini, warga Wailiha bersebelahan dengan kampung Kisar terutama laki-laki sudah siap untuk menghadang pasukan Kristen dan sebagian lagi mengungsi. Jalan-jalan diblokade dan mobil yang dipakai untuk mengambil warga Wailiha dilempari sehingga mobil tersebut tidak berani lagi mengevakuasi warga. Bunyi tembakan dari pihak Kristen makin mendekat sehingga membuat benteng pertahanan Warga Wailiha menjadi Lumpuh dan mundur menyelamatkan diri ke Pabrik Pengalengan Ikan, Batu Gong. Melihat tidak ada lagi Pertahanan dari warga Wailiha membuat pihak Kristen Hutumuri dan beberapa kampung Kristen di sekitarnya leluasa dan membabi buta membakar habis rumah-rumah warga. Dua buah masjid yakni Masjid Nurul Ilmi dan Masjid Babussalam pun ikut dibakar.

Melihat warga Wailiha menyelamatkan diri ke pabrik Pengalengan Ikan dan yang lain nekad untuk berenang ke pantai kampung Tial (perkampugan Islam), 200 massa Kristen pun mengikutinya kearah pabrik, diikuti dengan pembakaran, pemboman, penembakan dan pelemparan mess (asrama) pabrik, sehingga mess pabrik pun terbakar. Setelah mess terbakar mereka pun diperintahkan keluar, namun warga Wailiha ini tidak berani keluar karena melihat pihak Kristen melengkapi dirinya dengan senjata modern, pistol, parang, tombak, basoka, bom dan lain-lain.

Berulang-ulang kali para perusuh Kristen mengatakan 'Perempuan-perempaun keluar dan angkat tangan'. Demi kesalamatan jiwanya merekapun menurutinya. Kemudian mereka disuruh berbaris untuk menuju Desa Hutumuri. Di tengah perjalanan, sebagian dari mereka mengatakan 'pilih perempuan-perempuan cantik', kemudian yang cantik-cantik dipisahkan dan diperintahkan segera mengeluarkan uang-uang yang dimilikinya. Sementara laki-laki yang masih bersembunyi di mess yang lain disuruh keluar. Dengan terpaksa mereka pun ikut keluar. Dihadapan keluarga, istri dan anaknya mereka dibantai.

Masing-masing Pak Risman (satpam perusahaan) korban dibacok dan dicincang, Pak La Ata ditembak, dicincang hingga isi perutnya keluar, Pak La Uta, dipotong dan cincang oleh teman kerjanya sendiri di perusahaan, seorang anak kecil, anak dari Ibu Wa Emi kepalanya di belah dengan Kapak, anak-anak kecil yang lain diinjak-injak, Pak La Nahiyah dipanah dari kiri tembus kekanan mayatnya dibuang dan di temukan dipantai Passo.

Seorang anak gadis yang bernama Suryani, 25 tahun, disuruh telanjang dengan membuka baju dan celananya, namun karena tidak diturutinya membuat mereka marah dan menyiksa serta memotong rambut dan lehernya sehingga gadis ini penuh dengan luka-luka.

Seorang Ibu yang bernama Wa Rahima (42 tahun) ditelanjangi di depan suaminya. Suaminya diancam akan dibunuh apabila berteriak atau berbicara. Seorang gadis lagi yang bernama Nurdia (17 tahun, siswa SMP Kelas III) sudah dibuka celananya dengan cara paksa dan - maaf - buah dadanya sudah dipegang siap untuk dipotong. Menurut pengakuan salah satu korban, ada sepasang suami istri diculik dan di bawa ke Hutumari, dan tidak diketahui nasibnya.

Sementara seorang Ibu bernama Dewi (bukan nama sebenarnya) yang sudah punya tiga anak, pegawai Pertanian diperkosa beramai-ramai sekitar 20 orang, setelah itu mereka dengan kejamnya melukai alat kemaluannya dengan alat tajam. Korban sementara di RS AL Halong dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dari informasi saksi, sebenarnya Ibu tersebut mau bergabung dengan warga Wailiha lainnya di mess Pabrik, namun ditengah perjalanan beliau sudah dianiaya.

Sekitar pukul 07.00 WIT, pertolongan Allah pun datang lewat bunyi tembakan aparat, membuat para perusuh Kristen lari tunggang langgang, menyelamatkan diri. Akhirnya warga Muslim segera diungsikan ke Asrama Halong dengan penuh penderitaan lahir batin, tanpa baju, uang dan materi lain yang mendukung hidup mereka lagi. 1)

26 Juli 1999 : Terjadi perlawan sengit, para mahasiswa Islam terjun membantu menghalau serangan-serangan pihak Kristen, namun pihak keamanan Brimob bertindak makin tidak adil. Sertu Erald Pattiwael dengan entengnya menembak sdr. Jamarah, hingga tewas, sementara Ade Buton luka berat akibat peluru menembus lututnya.

Ambon, 26 Juli 1999

Sebelumnya Dusun Wailiha di Batu Gong diserang pihak Kristen pada dinihari. Empat orang Muslim terbunuh dan sedikitnya dua puluh orang luka berat dan lima puluh luka ringan. Korban yang meninggal dan luka-luka di evakuasi ke RS Angkatan Laut Halong. Dilaporkan pula bahwa seorang wanita diculik dan tidak diketahui nasibnya.

Di Desa Lateri dan Latta, dinihari, ummat Islam diserang massa Kristen, Dua orang terbunuh ditembak Brimob, yakni sdr. La Ali dan La Ane serta yang satu lagi tertembak di bagian paha. Saat itu wanita dan anak-anak melarikan diri, bersembunyi di Halong Atas yang kemudian berhasi dievakuasi ke Dusun Kebun Cengkeh.

27 Juli 1999 : Desa Waihitu dan Tanah Lapang Kecil diserang pihak Kristen dari berbagai penjuru, akibatnya kedua desa tersebut luluh lantak. Para penghuni kedua desa itu melarikan diri berenang ke laut. Mereka kemudian mendapatkan pertolongan dan dievakuasi ke dermaga Yos Sudarso, Ambon.

Di Dusun Telaga Pange dan Keranjang terjadi penembakan oleh aparat Brimob, menewaskan dua orang yang teridentifiaksi sebagai Lampone dan Wa Haya (wanita).

Kebiadaban di Desa Latta, Kodya Ambon

28 Juli 1999 : Kondisi pertikaian Ambon yang melebar diberbagai tempat, juga merembet ke dusun Latta, sekitar 12 km dari pusat kota Ambon. Massa Kristen warga desa Lateri (bersebelahan dengan dusun Latta) menyerang Latta pada hari Rabu jam 04.00 dini hari. Dalam peristiwa Latta itu, sebagaimana dilaporkan oleh salah satu sumber, bahwa 1 orang terluka. Keberingasan kaum kristen ini tidak berhenti disini. Sumber yang keluarganya juga bertempat tinggal di Latta ini juga menceritakan bahwa setelah pihak Kristen menghancurkan beberapa rumah warga muslim Latta, dengan biadabnya mereka memperkosa dua orang wanita muslimah Latta. Jumlah warga yang memperkosa ini setelah dilaporkan dan dikonfirmasi balik oleh sumber tadi, banyaknya pelaku belum teridentifikasi. Setelah muslimah Latta ini diperkosa, 2 Muslimah lainnya dibantai dengan dipotong-potong hingga tewas.

Pada hari Rabu, jam 10.00 warga Kristen gabungan desa Hutumuri dan desa Passo menyerang dusun Wailiha (mayoritas berasal dari Buton). Anak-anak dan perempuan dusun ini sebelumnya telah diungsikan, sementara yang bertahan adalah hanya para pemuda yang bertahan. Dilaporkan bahwa 15 orang dibantai oleh pihak Kristen. 2)

Situasi Semakin Mencekam di Poka dan Kodya Ambon

29 Juli 1999 : Terjadi lagi penembakan oleh aparat Brimob, saat terjadi pertikaian antara pasukan putih dan merah (Kristen), di Perumnas Poka. Empat dilaporkan orang terbunuh. Mereka adalah Majid Amed, Hussein Ollong, Ali Ulat dan Kadir Rehalat. Sementara di Kota Ambon, seorang bernama Syamsul B. Rahayaan terbunuh ditempak aparat dari kesatuan Brimob.

30 Juli 1999 : Pihak Kristen kembali menyerang, kali ini ke desa Iha. Akibat serangan dari segala penjuru itu, dua orang dilaporkan terbunuh. Kondisi sementara terkendali dengan adanya bantuan pasukan yang datang dari Jakarta.

1 Agustus 1999 : Pukul 15.00 WIT, massa Kristen kembali membakar rumah-rumah Muslim di perbatasan antara perumahan penduduk Hative Kecil dengan rumah penduduk Kristen di Aster, yang telah ditinggalkan penghuninya..

3 Agustus 1999 : Pukul 09:20 WIT di Waihaong, beberapa warga Muslim berhasil menangkap seorang penyusup, di sekitar tempat pengungsian THR Waihaong Penyusup Kristen ini dihakimi hingga babak belur. Nasib serupa juga dialami seorang warga beragama Kristen yang ditangkap di depan kantor DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maluku, di Asoabali. Sekitar pukul 11.00 WIT, seorang warga Kristen ditemukan tewas di lantai Gedung Ambon Plaza, salah satu pertokoan termegah di Ambon. Diduga warga Kristen itu tewas akibat kemarahan warga Muslim akibat Rubiyanto, warga Muslim nelayan, yang sebelumnya dibantai dengan keji di depan toko Citra. 3)

Menurut laporan KONTRAS, sejak pecahnya pertikaian di Poka, tanggal 15 Juli hingga 5 Agustus 1999, tercatat 1.349 orang korban meninggal, ratusan lainnya luka-luka, dan 4 orang hilang. Sekitar 800 rumah dibakar habis, juga kira-kira 200 ruko habis dibakar. Kurang lebih 100.000 warga mengungsi. 4).

Catatan kaki :

1.Laporan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).

2.Laporan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).

3.Laporan Posko Umat Islam Masjid Muhajirin Tihu, Laporan Pos Keadilan Peduli Umat Ambon.

4.Majalah Sabili, no. 4/VII/25 Agustus 1999, dan Sinansari ecip, Menyulut Ambon, 208, Mizan.


TRAGEDI PENYERANGAN DAN PEMBANTAIAN

WARGA MASYARAKAT PADA BEBERAPA DESA/DUSUN

DI PULAU AMBON

Pada sore dan malam hari Selasa, tanggal 19 Januari 1999 (masih dalam suasana Idul Fitri), terjadi kerusuhan dan pembakaran di dalam kota Ambon, di daerah Batu Merah, Mardika, Silale dan di beberapa tempat lain. Peristiwa ini didahului dengan suatu peristiwa kriminal biasa yang terjadi sebagai akibat dari tindakan seorang pemuda asal Bugis yang berdomisili di Batu Merah, yang memeras seorang pemuda Ambon (sopir angkot) yang bernama JOPY, yang akhirnya berlanjut dengan pembakaran rumah-rumah penduduk dan rumah-rumah ibadah, serta perkelahian dan pembunuhan antar warga yang beragama Kristen dan yang beragama Islam, malah pada daerah-daerah tertentu, pembakaran rumah-rumah penduduk didahului dan diakhiri dengan aksi penjarahan (pencurian). Akibat kerusuhan ini, beberapa desa dan dusun di Pulau Ambon ikut menjadi sasaran kerusuhan tersebut.

Yayasan Sala Waku Maluku, sebuah LSM yang bergerak di bidang advokasi hukum dan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat di Maluku, sejak terjadinya kerusuhan tersebut sempat menghimpun sejumlah data dari lokasi dan korban yang dapat disajikan dibawah ini .

1. Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang

Pada pagi hari Rabu, tanggal 20 Januari 1999 (hari kedua lebaran), kira-kira pukul 08.30 WIT, warga Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang-Pulau Ambon, dikejutkan oleh isu akan adanya penyerangan oleh warga desa-desa tetangganya. Namun karena adanya himbauan dari para petugas di Pos Keamanan Simpatik (Telaga Kodok) agar warga setempat tetap tenang dan tidak mengadakan gerakan apa-apa, maka merekapun hanya berjaga-jaga di lingkungannya masing-masing dengan berbagai senjata yang ada. Sementara itu, karena tidak adanya tanda-tanda bahaya pagi itu dan hari sebelumnya, sebagian warga yang lain pergi ke kebun atau bekerja seperti biasa. Berdasarkan seorang saksi korban, petugas di Pos Keamanan juga sudah menyatakan bahwa mereka sudah meminta bantuan pengamanan dari Polda dan Polsek.

Namun kira-kira jam 09.30 WIT, menurut saksi mata yang juga korban/pengungsi (seorang guru), dari ujung jalan Telaga Kodok (arah Desa Hitu) datang berbondong-bondong warga desa tetangga dalam jumlah sangat banyak, sampai-sampai kerumunan manusia itu tidak kelihatan ujungnya (diperkirakan lebih dari seribu orang). Beberapa di antara mereka yang datang itu di kenal oleh para saksi sebagai warga Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal, tetapi kebanyakan tidak dikenal oleh warga setempat.

Mereka yang datang itu membawa berbagai jenis senjata tajam, antara lain : parang, samurai, panah, bom dan sebagainya, dan sebagian diantaranya memakai pelindung badan dari ban bekas serta tameng dari logam. Setibanya di depan sekolan (SD Inpres) Telaga Kodok, seorang saksi mata sempat menanyakan maksud perjalanan mereka, yang kata salah serang pimpinannya (yang dikenal sebagai pegawai pada Kantor Pariwisata) mereka akan takbiran ke Ambon. Warga Telaga Kodok itu sempat menyarankan agar mereka tidak melakukan gerakan dengan membawa senjata-senjata tajam dan meminta warganya agar tidak melakukan gerakan apa-apa. Namun hal itu tidak digubris oleh gerakan masa yang datang tersebut. Saksi mata sempat melihat petugas-petugas keamanan (kurang lebih 6 orang) dalam mobil menerobos masa yang berduyun-duyun itu dari arah belakang (Desa Hitu) ke arah Dusun Benteng Karang (arah kota Ambon), namun tidak mengatasi bahkan meninggalkan rombongan masa itu. Masa dari desa-desa tetangga itu mulai menerobos masuk kampung, merusak rumah-rumah, membakarnya dan bahkan sebagian dengan menggunakan bom untuk menggempur Gereja Katolik, Gereja Petra dan bangunan-bangunan lain. Hal ini menyebabkan penduduk dari dusun Telaga Kodok lari pontang-panting menyelamatkan diri, mencari dan membawa serta keluarga mereka.

Gerakan masa terus maju menuju Dusun Benteng Karang dan di hadang oleh sejumlah laki-laki dari dusun tersebut dengan mengadakan perlawanan bersenjatakan batu dan berbagai senjata yang ada. Namun karena mereka kurang siap dan banyaknya masa yang kalap menyerang dengan membabi buta, diiringi bunyi ledakan sana-sini, warga laki-laki dari kedua dusun tersebut menjadi kewalahan dan ketakutan sehingga terus mundur, menyelamatkan diri dan melarikan warga perempuan, anak-anak dan orang-orang lanjut usia. Para penyerang terus maju dari Dusun Benteng Karang kearah kota Ambon dengan terus menyerang warga setempat (terutama laki-laki dan ada juga perempuan) dengan batu dan senjata-senjata tajam serta membakar bangunan-bangunan yang ditemui.

Dalam penyerangan itu, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan sempat dibunuh secara sadis dengan cara membelah dan mengeluarkan janin dari perut sang ibu, sedangkan anaknya yang berusia 2 tahun diambil dan dijadikan tameng dari lemparan batu penduduk yang masih bertahan. Hal mana diungkapkan oleh ayah/suami dari ibu dan anak tersebut, yang menyaksikan eksekusinya. Selain itu terjadi pembunuhan terhadap puluhan warga Benteng Karang dan penganiayaan terhadap puluhan warga Dusun Telaga Kodok dan Dusun Benteng Karang yang beragama Kristen.

Penyerangan dan pembakaran mereda setelah lewat tengah hari. Sebagian besar penyerang meninggalkan Dusun Benteng Karang menuju ke arah kota Ambon, dan mereka sempat membakar rumah-rumah penduduk dan rumah-rumah ibadah orang Kristen di Desa Hunuth/Durian Patah, waiheru, Nania dan Negeri Lama. selain itu membunuh dan membakar seorang pendeta dan warga masyarakat lainnya.

Sementara masih ada sebagian penyerang yang tinggal di Dusun Benteng Karang sampai sore. Para penyerang yang tinggal di Dusun Benteng Karang tersebut, kemudian terus mencari penduduk yang masih tinggal di dusun tersebut.

Menurut saksi mata, beberapa warga, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang melarikan diri dan bersembunyi dalam goa (di belakang Dusun Benteng Karang) dibom, beruntung bom tersebut tidak meledak, namun 2 (dua) orang warga sempat di siksa dan kemudian di bunuh di mulut goa. Para wanita dan anak-anak yang menyerahkan diri setelah keluar dari goa kemudian di antar menuju Dusun Sapuri yang terletak di ujung Dusun Benteng Karang menuju ke arah kota Ambon. Saat mereka di antar, beberapa orang wanita sempat dianiaya dan dipotong ketika menyebut nama "Yesus".

Di Dusun Sapuri terjadi penculikan terhadap 2 (dua) orang anak kecil, namun kedua anak ini telah di kembalikan kepada orang tua mereka oleh para penculik, yang hingga kini tidak di ketahui namanya. Menurut keterangan para ibu penghuni goa tersebut, saat mereka menunggu eksekusi atas diri mereka, tiba-tiba muncul truck tentara, akhirnya mereka di selamatkan dan di evakuasi ke gereja Sejahtera, jemaat Poka dan selanjutnya di bawa dan di tampung di Den Zipur 5.

Ada indikasi terjadinya penjarahan barang-barang milik warga Dusun Telaga kodok dan Dusun Benteng Karang sebelum membakar rumah-rumah penduduk, karena setelah penyerangan (pada siang dan sore hari), ada beberapa saksi yang melihat mobil-mobil truck bolak-balik keluar masuk Dusun Benteng Karang dan Dusun Telaga Kodok dengan muatan perabotan rumah tangga dan lain-lain kearah Desa Hitu.

Penyerangan, pengrusakan dan pembakaran dilakukan secara selektif terhadap warga yang non muslim (Protestan dan katolik) serta rumah-rumah mereka, sementara rumah-rumah warga muslim luput. Menurut saksi mata, hal ini di lakukan dengan melihat tanda ikatan kain putih di pintu-pintu rumah warga muslim, sehingga rumah-rumah tersebut luput dari pembakaran dan penjarahan.

Sampai lewat tengah hari itu, tidak ada bantuan personel keamanan dari manapun seperti yang di janjikan sebelumnya oleh para petugas Pos Keamanan Simpatik (Dusun Telaga Kodok). Sehingga selama aksi penyerangan dalam beberapa jam tadi, tidak terjadi pencegahan ataupun penghadangan serangan oleh petugas keamanan manapun.

Tapi beberapa saksi melihat adanya petugas keamanan, saat lewat tengah hari, dengan menggunakan truck menuju ke Dusun Benteng karang. Namun setelah melakukan beberapa kali tembakan, mereka malah berpelukan dengan para penyerang lalu pergi meninggalkan lokasi kejadian.

Pembunuhan terhadap warga masyarakat Kristen di Dusun Benteng Karang ini sangat keji, karena sebelum di bunuh mereka dianiaya kemudian di buang ke dalam puing-puing rumah yang sementara terbakar, malah ada yang dipenggal kecil-kecil, ditusuk dengan bambu dan kemudian di panggang seperti sate. Hal ini diungkapkan oleh saksi mata yang ikut dalam pencarian korban di lokasi, setelah terjadi peristiwa kerusuhan tersebut dimana dari 15 mayat yang di temukan, semuanya dalam keadaan terbakar dan ada yang dipanggang seperti sate.

Sayangnya pihak kepolisian yang ikut dalam pencarian dan pemakaman tidak melakukan identifikasi korban, sehingga dari 15 mayat hanya 4 mayat yang dikenal atas nama :

  1. PETRUS LAMBERTHUS KASMASAK (Purnawirawan ABRI)
  2. Ny. MIRU
  3. ANATHONIUS TOPURMERA
  4. RINA MAKEWE (ibu hamil yang perutnya dibelah dan janinnya dikeluarkan)

Dari rekaman peristiwa yang sempat direkam dari para saksi mata, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam kasus ini, yaitu :

  1. (a) Selain penyerangan dan pembantaian terhadap warga masyarakat Kristen di Dusun Benteng Karang dan Telaga Kodok sebagai akibat provokasi atas terjadinya kerusuhan di kota Ambon yang di mulai tanggal 19 Januari 1999, kemungkinan penyerangan dan pembantaian ini dilakukan sebagai akibat adanya informasi dari orang-orang tertentu seperti :

    1. AMRAN, warga Bugis yang tinggal di dusun Sapuri,
    2. AIJO, warga Buton sekaligus Ketua Pemuda di dusun Hulung, dan
    3. ISMAIL THARUB, kepala dusun Hulung, yang sebelumnya melaporkan Kepala Dusun Benteng karang dan salah seorang warga dusun Benteng Karang, yaitu saudara LEWERISSA ke polsek Hitu, dan menghadap di Polsek Hitu pada tanggal 16 january 1999 dengan tuduhan bahwa warga dusun Benteng Karang akan menyerang dusun Hulung.
  2. (b) Pada tanggal 21 Januari 1999, sekitar pukul 05.00 WIT, di Desa Rumahtiga, masa menyerbu rumah seorang pemuda (sopir mobil) bernama ABANG, berasal dari Desa Hitu, yang di duga melakukan kontak dengan masyarakat Desa Hitu di Hitu. Pemuda yang bersangkutan patut di curigai sebagai provokator dari tragedi ini, karena kurang lebih 15 menit sebelum terjadi penyerangan di Dusun Telaga Kodok, para saksi mata menemukan yang bersangkutan di ujung Dusun Benteng Karang sementara mengendarai mobilnya menuju Desa Hunuth dari arah Desa Hitu.

  3. (c) Seorang yang dikenal oleh saksi mata sebagai pegawai kantor pariwisata dengan menggunakan sepeda motor dinas kantor Plat merah patut dicurigai sebagai pimpinan rombongan penyerang yang berakibat pada terbunuhnya warga Dusun Benteng Karang, maupun penjarahan dan terbakar rumah-rumah penduduk, rumah ibadah dan berbagai sarana umum lainnya.

  4. (d) Perlu dipertanyakan sampai sejauh mana tanggung jawab petugas keamanan yang tidak menghalangi para penyerang, malah memberikan jaminan agar warga Telaga Kodok dan Benteng Karang masuk dan tetap tinggal dalam rumah mereka masing-masing, yang berakibat pada terbunuhnya warga masyarakat dan terbakarnya beserta rumah-rumah mereka, gereja dan fasilitas umum lainnya.

  5. (e) Para saksi mata menerangkan bahwa para penyerang datang dari beberapa desa seperti Desa Hitu, Wakal, Mamala dan Morela dengan mempergunakan senjata tajam (parang, tombak, panah-panah, bom dan lain sebagainya), dalam suatu rombongan yang tertata rapi, terdiri dari laki-laki maupun perempuan yang mengambil peran sebagai pelayan dengan menyediakan makanan (bekal) bagi para penyerang laki-laki, dengan strategi penyerangan dalam bentuk beberapa rombongan atau setidak-tidaknya terbagi dalam 3 (tiga) rombongan, dimana rombongan pertama bertugas menghalau masa dan memberikan tanda pada rumah-rumah warga muslim agar tidak dibakar. Rombongan kedua bertugas membakar serta membom rumah-rumah rakyat dan gereja serta sarana dan prasarana umum lainnya, sedangkan rombongan ketiga menjarah harta milik warga yang dibantai. Suatu petunjuk bahwa penyerangan telah direncanakan terlebih dahulu.

  6. (f) Dari keterangan para saksi mata dan hasil pengecekan di tempat penampungan membuktikan bahwa ada warga masyarakat yang hilang karena hingga kini belum diketahui dimana keberadaan mereka dan juga diculik oleh para penyerang, walaupun beberapa diantara mereka (umumnya anak-anak) telah dikembalikan kepada keluarganya, tanpa diketahui siapa sebenarnya yang telah mengembalikan mereka.

  7. (g) Para saksi mata umumnya tidak mengenal para penyerang, tetapi ada beberapa penyerang yang sempat dikenal , antara lain :

    1. IBRAHIM NASELA (warga Desa Hitumesing), yang membunuh ayah dari JOHANIS SAMI.
    2. USMAN NASELA (warga Desa Hitu) yang bertindak sebagai kapitan dan yang memimpin para penyerang,
    3. MALIK PELU, pegawai Bandara Pattimura (warga Desa Hitu) yang membongkar rumah-rumah masyarakat dengan mempergunakan martil besar,
    4. DJAFAR UENG, guru olah raga pada SD Negeri II Hitu (warga Desa Hitu)yang membakar rumah warga Benteng Karang,
    5. MUHAMAD SALA WAULAT, karyawan di Mangole (warga Desa Hitu) yang membakar rumah warga Dusun Benteng Karang,
    6. MUHAMAD PELU, sopir mobil (warga Desa Hitu) yang memotong ibu NON SELANNO dan SARAH MAKEWE,
    7. RADJAB, asal Buton (warga Desa Morela) yang membawa dan membom rumah-rumah warga Dusun Benteng Karang
    8. AMINA PELLU, guru olah raga pada SD Negeri I Hitu (warga Desa Hitu) yang mengantar makanan bagi para penyerang.

Para penyerang dan pembantunya jika ditangkap, diselidiki dan disidik, mungkin akan membongkar siapa provokator dibelakang aksi penyerangan ini. Perlu juga dikemukakan disini bahwa para saksi mata, baik yang berdomisili di Benteng Karang maupun karyawan BBI (Balai Benih Induk - Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Maluku), yang berdomisili disekitar Dusun Benteng Karang semula merasa bahwa mereka aman-aman saja, karena walaupun warga Dusun Benteng karang yang beragama Kristen telah di bunuh dan rumah-rumah mereka telah dimusnahkan, akan tetapi mereka masih sempat bersama-sama para karyawan BBI lainnya meloloskan Kepala BBI, sdr. SUROSO dan keluarganya yang beragama Islam kearah Dusun Telaga Kodok saat pecahnya peristiwa tanggal 20 Januari 1999. namun sdr. SUROSO dan beberapa karyawan harian BBI lainnya, antara lain : ACANG, SUGENG (keponakan sdr. SUROSO) dan LA ONDE, patut dicurigai turut terlibat dalam kasus ini, baik sebagai provokator maupun sebagai saksi mata pembakaran atas rumah-rumah dinas BBI dari karyawan yang beragama Kristen, berikut penjarahan atas barang-barang mereka diketahui oleh sdr. SUROSO dan para karyawan harian BBI yang nama-namanya tersebut di atas. Didalam penyerangan ini, saksi mata juga melihat para penyerang sempat merobek bendera merah-putih kebanggaan Bangsa Indonesia, dimana bagian putihnya dipergunakan mereka untuk mengikat kepala, sebagai tanda dalam penyerangan.

Perlu ditambahkan bahwa menurut saksi mata yaitu mereka, para warga masyarakat Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang bahwa setelah terjadinya kerusuhan telah terjadi penjarahan (pencurian) secara besar-besaran yang dilakukan oleh pihak penyerang terhadap hasil-hasil pertanian dan ternak-ternak mereka.

Akibat dari penyerangan ini, warga Kristen Jemaat Telaga Kodok dan Benteng Karang mengalami kerugian sebagai berikut :

a. Dusun Telaga Kodok

Korban luka berat: 2 orang
Korban luka ringan: 4 orang
Rumah (terbakar): 38 buah
Gereja (terbakar): 1 buah (katolik)
Korban mengungsi : 42 KK (174 jiwa)

b. Dusun Benteng Karang

Korban meninggal : 15 orang
Korban hilang: 9 orang
Korban luka berat: 21 orang
Korban luka ringan: 28 orang
Rumah (terbakar): 207 buah
Gereja (terbakar): 3 buah (GPM, Sidang jemaat Allah dan Logos)
Pastori (terbakar): 3 buah (GPM, Sidang Jemaat Allah dan Logos)
Balai Pengobatan (terbakar): 1 buah (GPM)
Balai Serba Guna (terbakar): 1 buah
Sekolah (terbakar): 1 buah (3 ruangan)
Koran mengungsi: 209 KK (Kepala Keluarga) atau 1166 jiwa

2. Rombongan "Bible Camp" GKPB di kompleks Field Station - Universitas Pattimura Hilla.

Pada tanggal 17 Januari 1999 kira-kira jam 17.30 WIT, rombongan "Bible Camp" dari GKPB (Gereja Kristus Perjanjian Baru) dengan kurang lebih 120 orang, berangkat dari Ambon menuju kompleks Field Station Universitas Pattimura di Hila untuk melakukan kegiatan "Bible Camp". Direncanakan selama 3 (tiga) hari dan mereka baru akan kembali pada tanggal 20 Januari 1999 sekitar jam 11.00 WIT.

Pada tanggal 20 Januari, pukul 11.00 WIT tersebut, saat mereka akan meninggalkan lokasi kegiatan, mobil yang akan mereka tumpangi ternyata tidak mampu menampung seluruh peserta. Rombongan kemudian memutuskan mengutus HENDRIK HURSEPUNY, MECKY SAINYAKIT (pendeta) dan supir mobil DEREK MATAHERU untuk pergi ke desa Wakal atau sekitarnya mencari mobil tambahan untuk mengangkut rombongan.

Menurut saksi mata, setibanya di desa Wakal, MECKY dan DEREK MATAHERU (supir) dikeluarkan dari mobil, langsung di bunuh dan mayatnya kemudian dibawa ke Puskesmas Hila, sedangkan mobilnya di bakar dan dibuang kelaut. Sedangkan HENDRIK (polisi), karena pernah bertugas di desa Wakal, maka ia dilindungi dan tidak dibunuh.

Sementara rombongan yang menunggu di kompleks Field Station, yang waktu itu berada di dalam aula mendengar suara "Allahu Akbar" berulang kali dan ternyata para penyerang dengan mobil truck telah datang dan memasuki kompleks Field Station untuk menyerang mereka. Mendengar suara-suara tersebut, pimpinan rombongan memerintahkan seluruh peserta untuk masuk ke kamar masing-masing untuk melindungi diri sambil berdoa.

Sementara berada dalam kamar dan berdoa, penyerang memotong jendela dan pintu maupun ambang pintu dan jendela sambil berteriak agar mereka segera keluar, kalau tidak mereka akan dibunuh. Karena takut, peserta keluardari kamar masing-masing, sementara ada peserta wanita yang berada di dalam kamar dan anak-anak yang sudah meloncat dan lari melalui jendela.

Rombongan yang keluar dari ruangan, kemudian diiring ke lapangan dan sementara itu mereka di pukul dan ada yang diseret. Sementara mereka di luar, seorang peserta yang kemudian dikenal bernama ROY PONTOH di bunuh dengan cara dipotong, yang menurut saksi mata, karena ketika Roy di tanya "kamu siapa?" maka secara berulang kali ia menjawab "saya tentara Allah". bersamaan dengan itu peserta lain masing-masing HENGKY PATTIWAEL, HERMANUS KURSAIN dan seorang pengawas pekerjaan galian parit dalam kompleks Field Station-Universitas Pattimura, yang diidentifikasi bernama JOSUA, ikut dibunuh oleh penyerang. Tragisnya setelah mereka dibunuh oleh penyerang, mayat-mayat mereka dilemparkan ke dalam got dan ditinggalkan begitu saja selama beberapa hari, kemudian baru dievakuasi oleh petugas keamanan. Rombongan yang tadi-tadinya digiring keluar ruangan (kira-kira 90 orang), kemudian di suruh masuk lagi ke ruangan. Mereka kemudian disandera dan bersamaan dengan itu penyerang mengambil/menjarah uang-uang yang ada di dalam tas mereka.

Kira-kira pukul 15.00 WIT, terdengar suara speed boat di pantai dan 2 (dua) orang penyerang keluar menuju pantai sedangkan penyerang lainnya keluar dan mengatakan akan pergi ke Benteng Karang. Ketika para penyerang meninggalkan mereka, datang 1 (satu) orang Buton dan mengatakan kepada rombongan yang ada, kalau ada mobil yang lewat supaya segera melarikan diri.

Melihat kondisi tersebut, rombongan segera terpecah menjadi beberapa kelompok, diantaranya kelompok anak-anak yang berumur 5 s/d 15 tahun sebanyak 8 (delapan) orang yang lari ke arah pantai dan dengan mempergunakan perahu yang sudah bocor, mereka berenang ke tengah laut dan kemudian di tolong oleh pengemudi perahu motor yang bernama Pak SALEH, warga Asilulu dan disembunyikan di dalam kapal rusak di pantai dan selanjutnya atas bantuan Bapak USMAN ELLY, Bapak ASIS MAHULETE dan beberapa penduduk, mereka ditampung untuk beberapa hari dan akhirnya diserahkan kepada petugas untuk diantar ke Ambon.

Kelompok berikut adalah kelompok anak-anak yang berumur 7 s/d 14 tahun dan berjumlah 11 (sebelas) orang, yang melarikan diri ke pantai dan setelah berenang beberapa jam di laut, beberapa orang dari mereka kembali ke pantai dan meminta bantuan dari seorang kakek dan anaknya yang diketahui sebagai warga suku Buton. Rombongan anak-anak ini kemudian ditampung oleh kakek dan anaknya tadi, mereka tidur semalam dan kemudian besok paginya tanggal 21 Januari 1999 mereka di antar lewat hutan menuju Desa Hative-Besar dan di sana mereka diserahkan kepada pihak keamanan.

Kelompok lain adalah beberapa kelompok kecil yang melarikan diri ke hutan. Kelompok ini, setelah keadaan agak tenang ada yang kembali bergabung dengan kelompok yang tetap tinggal di kompleks Field Station-Universitas Pattimura, yang kemudian dievakuasi oleh pihak keamanan pada tanggal 21 Januari 1999 di Koramil Hitu, sedangkan kelompok lain tetap tinggal di hutan hingga keadaan tenang barulah mereka melaporkan diri kepada pihak keamanan dan dibawa ke Ambon. Termasuk dalam kelompok ini adalah Ny. TALAHATU dan anaknya yang kemudian dievakuasi oleh petugas keamanan ke asrama tentara Waiheru. Khusus rombongan yang tetap tinggal di kompleks Field Station-Universitas Pattimura - Hila, menurut saksi mata, pada tanggal 20 Januari 1999 pada jam 17.00 WIT, ada rombongan penyerang yang berjumlah kira-kira 10 (sepuluh) orang mendatangi mereka dan meminta maaf dan mengatakan bahwa yang mereka cari orang laki-laki besar (dewasa) bukan anak-anak atau wanita. Jam 23.00 WIT juga datang penyerang dan mereka hanya merusak gedung. Dan pada jam 04.00 WIT pagi, tanggal 21 Januari 1999, ada rombongan penyerang yang datang dengan senter, tetapi mereka tidak melihat rombongan "Bible Camp" tersebut. Saksi mata juga menyebutkan pada jam 07.00 WIT, tanggal 21 Januari 1999 ada 2 (dua) orang warga Buton yang datang dan mengatakan bahwa yang menyerang adalah orang-orang Wakal.

Akibat dari penyerangan tersebut, rombongan "Bible Camp" GKPB mengalami kerugian sebagai berikut :

A. Korban meninggal 6 orang, masing-masing :

  1. Pdt. Ir. MECKY SAINYAKIT (dibunuh)
  2. DEREK MATAHERU (dibunuh)
  3. ROY PONTOH (dibunuh)
  4. HENGKY PATTIWAEL (dibunuh)
  5. HERMANUS KURSAM Kursam (dibunuh)
  6. JOSUA, Seorang pengawas pekerjaan parit di dalam kompleks Field Station - Universitas Pattimura, Hila (dibunuh)

B. Korban luka ringan karena dipukul dan diseret (hingga kini belum terdata)

C. Hilangnya sejumlah uang karena dijarah oleh penyerang.

3. Dusun Wahatu (Desa Wakal)

Dusun Wahatu (Desa Wakal) pada umumnya berpenduduk warga masyarakat Buton yang beragama Islam. Di dusun ini bermukim juga 3 (tiga) keluarga atau 13 (tigabelas) jiwa yang beragama Kristen, karena para kepala keluarganya berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar. Mereka ini ikut menjadi korban kerusuhan Ambon, tanggal 20 januari 1999. Menurut para saksi mata sebelum terjadinya peristiwa kerusuhan, tanggal 20 Januari 1999, ada seorang warga Desa Wakal yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar pada Dusun Wahatu, yang bernama MUHAMAD PATAH, yang telah memberikan informasi sepanjang Dusun Wahatu menuju desa Hila bahwa "siap-siap, ada orang mau serang".

Dengan informasi ini, para korban terutama ke tiga keluarga Kristen tersebut memikirkan bagaimana cara agar mereka dapat menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Kesempatan mana mereka gunakan untuk bersembunyi pada keluarga keluarga asal suku Buton di Dusun Wahatu, diantaranya keluarga LA USU, LA MUSLIM dan HASAN.

Kira-kira jam 14.00 WIT, tanggal 20 Januari 1999, ada seorang warga Desa Wakal, yang kemudian dikenal bernama YUSUF JAMAL, berteriak-teriak di dalam Dusun Wahatu bahwa : "kamu orang Wahatu jangan sembunyi itu orang-orang Kristen, keluarkan mereka untuk di bunuh. Orang Kristen itu tidak punya perasaan manusia. Dorang cincang anak-anak bayi dalam kandungan ibunya. Katorang orang Islam ini punya perasaan manusia sangat tinggi dibandingkan dengan mereka. Orang Benteng Karang itu sangat biadab, dorang bakar mesjid Sapuri". (catatan : Sapuri terletak antara Dusun Hulung dan Dusun Benteng Karang).

Kemudian kira-kira pada jam 18.00 WIT, muncul seorang warga desa Wakal (tinggal di Wahatu), yang dikenal bernama HARIS mencoba untuk merusak rumah keluarga LEHA (salah satu dari 3 keluarga kristen yang menyembunyikan diri), namun tidak berhasil.

Menurut saksi mata, pada tanggal 21 Januari 1999, terjadi pelemparan pada rumah-rumah guru oleh para pemuda Desa Wakal dan mereka mengancam untuk membakar rumah-rumah guru tersebut. Namun usaha mereka ini di halang-halangi oleh warga Buton Dusun Wahatu yang masih simpati kepada 3 (tiga) keluarga guru yang beragama kristen tersebut. Sementara itu datang informasi bahwa sekitar malam hari, rumah-rumah warga Dusun Wahatu akan di geledah, jangan sampai ada warga Dusun Wahatu yang menyembunyikan orang-orang Kristen. Mengantisipasi informasi tersebut, maka pada hari kamis, tanggal 21 Januari 1999, beberapa warga suku Buton Dusun Wahatu mengantar (melarikan) para guru tersebut bersama keluarganya ke hutan dan bersembunyi di rumah-rumah kebun mereka secara terpisah antara satu kelaurga dengan keluarga lainnya.

Selanjutnya, pada hari Jumat, tanggal 22 Januari 1999, keluarga guru-guru tersebut disatukan lagi dan mereka diungsikan ke hutan yang jauh dari petuanan Desa Wakal untuk menghindari diri dari kejaran para perusuh (warga desa Wakal). Ketiga keluarga tersebut ditempatkan oleh para orang Buton Dusun Wahatu tersebut di atas gunung yang agak curam, yang berjarak kurang lebih 3 (tiga) km dari Dusun Wahatu.

Bersamaan dengan itu, diperoleh informasi bahwa rumah keluarga LEHA sudah dirusak beserta barang-barangnya, malah orang-orang Wakal mengancam untuk membakarnya, namun dihalang-halangi oleh warga Dusun Wahatu.

Kemudian pada hari minggu, tanggal 24 Januari 1999, kira-kira jam 17.00 WIT, beberapa orang Buton menyampaikan kepada para keluarga tersebut bahwa mereka sudah melapor kepada pihak keamanan (Koramil Leihitu), dan para keluarga tersebut segera turun dari gunung dan tiba di Dusun Wahatu kira-kira jam 18.00 WIT, dan setelah agak malam, dengan bantuan 2 (dua) orang anggota Koramil, mereka di antar ke Pos Koramil Leihitu. Besoknya tanggal 25 Januari 1999, kira-kira jam 12.00 WIT, ketiga keluarga tersebut kemudian diantar ke tempat penampungan Den Zipur 5, Desa Rumah Tiga.

Akibat penyerangan tersebut, 1 (satu) buah rumah hancur akibat di rusak oleh warga masyarakat Desa Wakal dan korban mengungsi 3 KK atau 13 jiwa.

4. Desa Hative-Besar dan Dusun Kamiri

Kerusuhan kota Ambon yang dimulai tanggal 19 January 1999 telah mengakibatkan pengungsian warga masyarakat ke beberapa desa pinggiran yang untuk sementara dianggap aman. Bersamaan dengan itu, pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 04.00 s/d 10.30 WIT, Dusun Kamiri - Desa Hative Besar berdatangan warga masyarakat dari pantai pasar (pasar Ambon lama) dengan mempergunakan angkutan laut, speed boat.

Menyikapi kondisi tersebut, maka Kepala Desa Hative Besar dengan dibantu oleh aparat keamanan (Kapolsek Baguala) berusaha untuk menekan arus pengungsian tersebut dengan meminta agar pengungsi tidak turun ke darat di Dusun Kamiri. Namun usaha ini sia-sia, karena ketika Kepala Desa dan pihak keamanan meninggalkan lokasi, para pengungsi tetap tinggal dan malah tetap berlabuh di tengah-tengah laut.

Sekitar kira-kira jam 12.00 WIT, para pengungsi yang berada di tengah laut tersebut merapat dan kembali menurunkan masyarakat di Dusun Kamiri. Kehadiran para pengungsi di Dusun Kamiri tersebut, oleh warga masyarkat Desa Hative Besar yang beragama Kristen di sekitar Dusun Kamiri di anggap sebagai ancaman terhadap mereka.

Karena itu, kira-kira pukul 14.00 WIT, mereka meminta bantuan warga Kristen dari Dusun Souhuru dan Dusun Waalia untuk menjaga perbatasan antara orang-orang Islam dan orang-orang Kristen di Desa Kamiri.

Menjelang pukul 17.30 WIT, ada tindakan saling melempar batu dari kedua belah pihak, tanpa diketahui siapa yang melempar lebih dulu, diikuti dengan tindakan saling menyerang diantara warga kedua belah pihak terjadi pada pukul 17.30 WIT, dengan mempergunakan berbagai alat tajam seperti parang, tombak, panah dan batu.

Dalam penyerangan ini, warga Kristen Hative Besar sempat membakar sebuah kios milik warga Buton yang terletak di ujung kali Wailete. Tindakan pembakaran kios tersebut dibalas dengan pembakaran 1 (satu) buah gudang milik toko Mas Umum, 4 (empat) buah rumah guru diluar pagar tembok sekolah, 2 (dua) buah rumah milik warga kristen yang berdekatan dengan rumah guru dan merusak 2 (dua) rumah warga Kristen beserta segala isinya oleh warga Buton, Bugis dan Makasar, yang berdomisili di Dusun Kamiri bersama-sama dengan para pengungsi yang datang dari Ambon. Kejadian ini berlangsung hingga pukul 23.30 WIT.

Setelah itu keadaan menjadi tenang, datang informasi (tidak diketahui siapa yang membawa informasi tersebut) bahwa orang-orang Buton, Bugis dan Makasar akan kembali menyerang warga Hative Besar pada jam 04.00 WIT, tanggal 21 Januari 1999.

Informasi tersebut ternyata benar, pada tanggal 21 Januari 1999, kira-kira jam 05.00 WIT, warga masyarakat Buton, Bugis dan Makasar (beragama Islam) kembali membakar 8 (delapan) buah rumah guru yang ada di dalam kompleks sekolah dan 7 (tujuh) buah rumah penduduk yang beragma Kristen. Pembakaran tersebut di balas oleh warga masyarakat Kristen Hative Besar dengan membakar habis seluruh rumah penduduk, rumah ibadah dan berbagai sarana/prasarana lainnya di Dusun Kamiri.

Para saksi mata menjelaskan, dalam serangan pagi itu, masyarakat Buton, Bugis dan Makasar di Dusun Kamiri sempat mempergunakan 6 (enam) buah lampu sorot, dan sebagian lampu itu dirusak oleh warga masyarakat Hative Besar.

Terlepas dari alasan-alasan yang sudah dijelaskan diatas, yang menjadi pemicu dalam peristiwa ini, namun perlu diperhatikan bahwa sebelum terjadinya peristiwa ini, pada bulan Desember 1998, pernah terjadi pembakaran sebuah kios minyak milik warga Buton di dusun Kamiri oleh warga Hative Besar setelah terjadinya suatu peristiwa kriminal biasa, yang juga dapat dijadikan salah satu sebab terjadinya peristiwa tersebut.

Akibat dari peristiwa tersebut, jatuh korban dan kerugian materil lain yang dapat diperinci sebagai berikut :

I. Pihak Desa Hative Besar (warga Kristen)

Rumah terbakar : 30 buah
Sekolah terbakar : 1 buah
Gudang toko Mas Umum terbakar: 1 buah
Rumah yang dirusak: 4 buah
Korban mengungsi : 31 KK (Kepala Keluarga) atau 137 jiwa

II. Pihak Dusun Kamiri

Korban meninggal : 4 orang, namanya belum diketahui
Korban luka berat: 10 orang (dirawat di rumah sakit)
Korban luka ringan: ± 100 orang (pengobatan di asrama 733 Waiyame)
Rumah terbakar: 122 buah rumah
Mesjid terbakar: 1 buah
Mushola terbakar: 1 buah
Speed Boat terbakar: 3 buah
Korban mengungsi: 163 KK (Kepala Keluarga) atau 654 jiwa

5. Dusun Hila Kristen - Desa Kaitetu

Kerusuhan Ambon yang dimulai tanggal 19 Januari 1999 berdampak pula di Dusun Hila Kristen - Desa Kaitetu.

Pada tanggal 19 Januari 1999, antara jam 14.00 s/d 15.00 WIT, ada beberapa warga Dusun Hila Kristen yang menerima informasi dari Ambon bahwa di Kota Ambon telah terjadi kerusuhan antara warga Desa Batu Merah dengan warga masyarakat Mardika. Berdasarkan informasi tersebut, staf perangkat Dusun Hila Kristen, saudara FERDINAND LEIWAKABESSY serta seorang tokoh masyarakat Kristen Dusun Hila Kristen, saudara PETRUS TAMTELAHITU, mengambil prakarsa mengadakan pertemuan dengan para pemuda dusun Hila Kristen yang direncanakan akan berlangsung pada jam 20.00 WIT bertempat dirumah saudara FERDINAND LEIWAKABESSY.

Rapat tersebut akhirnya berlangsung pada jam 20.00 WIT, dimana dalam pertemuan tersebut saudara H. LESBASA SH memberikan pengarahan yang pada prinsipnya meminta agar para pemuda Dusun Hila Kristen tidak perlu terpancing dengan peristiwa di kota Ambon, namun perlu mewaspadai setiap perkembangan. Untuk itu perlu digiatkan siskamling.

Pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 08.00 WIT, saudara ISMAIL SELLANG (warga Desa Hila Islam) memberitahukan kepada beberapa warga Dusun Hila Kristen bahwa warga Desa Wakal akan menyerang warga Dusun Hila Kristen, tetapi jangan takut, karena warga Desa Hila Islam akan siap untuk menghadapi / mengusir mereka. Jadi tenang saja di rumah masing-masing.

Kira-kira jam 09.30 WIT datang seorang anggota Polres P. Ambon, warga Desa Kaitetu yang bernama IMRAN TATISINA, yang memberitahukan kepada saudara H. LESBASA SH, bahwa Bapak dan warga Desa Hila Kristen harap tenang saja di rumah masing-masing tidak perlu terpengaruh dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

Kemudian, sekitar jam 09.45 WIT, saudara ISMAIL SELLANG (warga Desa Hila Islam) kembali mendatangi saudara H. LESBASA SH dan mengatakan bahwa Bapak serta warga Desa Hila Kristen tetap tenang saja di rumah masing-masing karena warga Desa Hila Islam yang akan siap untuk menghadapi orang-orang Wakal apabila mereka masuk menyerang warga Dusun Hila Kristen. Selanjutnya, saudara ISMAIL SELLANG mengatakan bahwa apabila melihat orang-orang yang bukan warga Desa Hila, potong (bacok) saja dan buang mayatnya.

Kira-kira jam 10.30 WIT, saudara SALEH OLLONG memberitahukan kepada saudara H. LESBASA SH bahwa "bung, jangan takut, tenang saja dirumah masing-masing, nanti orang Hila Islam yang akan menhadang orang Wakal apabila mereka berani masuk menyerang warga Dusun Hila Kristen".

Namun, apa yang dijanjikan oleh warga Desa Hila Islam, masing-masing ISMAIL SELLANG dan SALEH OLLONG maupun anggota Polres P. Ambon warga Desa Kaitetu, saudara IMRAN TATISINA itu tidak menjadi kenyataan.

Hal ini disebabkan karena pada kira-kira jam 12.00 s/d 13.00 WIT, mulai tampak beberapa warga Desa Hila Islam dengan memakai ikat kepala berwarna putih memasuki dan berkeliaran di ujung-ujung jalan perbatasan antara Desa Hila Islam dan Dusun Hila Kristen.

Menurut saksi mata, pada kira-kira jam 01.30 WIT, tanggal 21 Januari 1999, tampak masa dari Desa Hila Islam dengan menyerukan "ALLAHU AKBAR .... ALLAHU AKBAR" secara berulang kali, mulai melakukan pelemparan batu terhadap rumah-rumah penduduk warga Dusun Hila Kristen yang diikuti dengan pembakaran beberapa buah rumah penduduk Dusun Hila Kristen serta gedung Gereja Tua Imanuel.

Akibat penyerangan tersebut (pembakaran rumah penduduk dan Gereja Tua Imanuel), maka warga Dusun Hila Kristen menjadi panik serta lari dan menghindarkan diri di rumah-rumah penduduk Desa Kaitetu (beragama Islam), sedangkan ada beberapa warga Dusun Hila Kristen lainnya yang berusaha untuk mempertahankan gedung Gereja Imanuel, namun usaha mereka menjadi sia-sia akibat serbuan yang datangnya secara bergelombang dari warga Desa Hila Islam.

Menurut saksi mata, beberapa dari warga Desa Hila Islam yang sempat mereka kenal dalam peristiwa pembakaran rumah-rumah penduduk dan Gedung Gereja Imanuel ini, antara lain :

  1. MOKHTAR TATISINA
  2. BUANG SELAYAR
  3. RAJAB ELLY
  4. MUSTAFA SOPALIU
  5. MUCHLIS LATING
  6. SALMAN TATISINA
  7. JUSUF LOLI alias TAKUT NASI
  8. MUDRIK MAHULAU
  9. ISNAEN TATISINA
  10. JUSUF LATING
  11. JUNEN HATALA
  12. ARIFIN LATING
  13. IBRAHIM HATALA
  14. UMAR HASAWALA
  15. SAIFUL KAPITANHITU
  16. AKHMAD LATING
  17. DUMAIN ULUSELANG
  18. SAMIUN LATING (wanita)

Para saksi mata juga menjelaskan bahwa pada saat terjadinya aksi pelemparan batu terhadap rumah-rumah penduduk warga Dusun Hila Kristen yang dilakukan oleh warga Desa Hila Islam, tampak ada beberapa anggota ABRI dan salah satu diantaranya adalah Babinsa, dimana anggota-anggota ABRI tersebut tidak melakukan upaya apa-apa untuk mencegah atau menghalangi para penyerang/perusuh tersebut.

Selain itu, beberapa saksi mata yang turut dalam evakuasi mayat korban AGUS MATINAHORU sempat menyaksikan bagian depan mimbar Gereja Imanuel, setelah Gereja tersebut dibakar, terdapat bekas galian besar. Diduga, para penyerang (perusuh) ingin mengetahui apa benar ada harta karun yang disimpan didalam Gereja Tua tersebut.

Akibat dari penyerangan tersebut, warga Desa Hila Kristen mengalami kerugian sebagai berikut :

Korban meninggal : 1 orang
Korban luka berat: 2 orang
Korban luka ringan: 1 orang
Rumah penduduk terbakar: 60 buah
Gereja terbakar: 1 buah
Korban mengungsi: 119 KK (Kepala Keluarga) atau 551 jiwa

HASIL ANALISA SEMENTARA

ADVOKASI KERUSUHAN UNTUK BERAPA LOKASI

DI LUAR PULAU AMBON

(Telaga Kodok, Benteng Karang, Wahatu, Kelompok "Bible Camp",

Hilla Kristen dan Hative Besar)

Berdasarkan kronologis peristiwa sebagaimana diuraikan di muka, maka dapat dilakukan analisis sebagai berikut :

I. PRA PERISTIWA KERUSUHAN

Dari data yang ada, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

  1. Pada tanggal 16 Januari 1999 Kepala Dusun Benteng Karang dan seorang warganya dilaporkan oleh Kepala Dusun Hulung, seorang warga Suku Bugis dan Buton yang berdomisili di Dusun Hulung dan Sapuri ke Polsek Hitu bahwa Dusun Benteng Karang akan menyerang Dusun Hulung, padahal laporan ini tidak benar.
  2. Pada pagi hari sebelum penyerangan terhadap Dusun Telaga Kodok dan Dusun Benteng Karang, muncul informasi yang disampaikan di Dusun Wahatu Desa Wakal kepada 3 (tiga) kepala keluarga (KK) guru yang beragama Kristen dari seorang warga Wakal bahwa "siap-siap ada orang mau serang".
  3. Sebelum terjadi penyerangan di lokasi Telaga Kodok dan Benteng Karang, maka berdasarkan informasi bahwa akan ada penyerangan kepada masyarakat Benteng Karang. Hal tersebut telah dilaporkan kepada petugas Kepolisian pada Pos Simpatik di Telaga Kodok. Tetapi Polisi memberikan jaminan tidak akan ada apa-apa.
  4. Sebelum penyerangan ditemukan seorang warga Desa Hitu yang mengendarai mobil di ujung Dusun Benteng Karang ke arah Ambon dan yang bersangkutan pada tanggal 21 Januari 1999 pukul 04.00 WIT diserbu masa di desa Rumahtiga karena diduga sebagai pemberi informasi ke Desa Hitu tentang kerusuhan di Ambon dan Rumahtiga.
  5. Adanya tindakan akal-akalan dari penyerang yang dengan sengaja mengelabui petugas dan masyarakat bahwa mereka tidak akan menyerang, tetapi akan pergi takbiran ke Ambon.

Dari fakta-fakta di atas kesimpulan sementara adalah naluri intelejen keamanan kurang profesional untuk menangkap dan mengkaji isu-isu dalam masyarakat dan seyogianya polisi harus segera melakukan penyelidikan dan penyidikan kepada Kepala Dusun Hulung, serta 2 (dua) orang warga Buton/Bugis yang menyebarkan isu yang tidak benar, sekaligus warga Desa Wakal yang setidak-tidaknya mengetahui adanya informasi penyerangan tersebut atau warga Hitu yang melakukan hubungan komunikasi ke Desa Hitu demikian pula kepada Pegawai Kantor Pariwisata yang menerangkan mereka akan takbiran ke Ambon untuk membuka tabir peristiwa ini.

II. SAAT KEJADIAN

1. Dari data yang ditemukan di lapangan ditemukan beberap fakta yang perlu diungkapkan :

1.1. Kerusuhan terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan, yaitu pada tanggal 20 Januari 1999, antara jam 09.00 s/d 10.00 WIT.

1.2. Perusuh dalam jumlah yang cukup banyak dengan mempergunakan alat-alat tajam seperti parang, samurai, panah-panah, tombak, bom dan lain-lainnya dalam jumlah yang banyak.

1.3. Penyerang datang dari berbagai desa yang jarak antara lokasi yang satu dengan lokasi yang lain cukup berjauhan, sehingga dipertanyakan bagaimana mereka dapat dikumpulkan dalam waktu yang relatif singkat untuk melakukan penyerangan.

1.4. Pola penyerangan yang dilakukan penyerang sangat rapi. Contoh pada Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang, penyerang membentuk beberapa kelompok setidak-tidak 3 (tiga kelompok), dimana kelompok pertama berperan sebagai orang-orang yang mengusir rakyat yang mempertahankan diri kemudian memberi tanda pada rumah yang muslim dan non muslim. Kelompok kedua berperan sebagai orang-orang yang membunuh, membom dan membakar rumah-rumah rakyat, rumah-rumah ibadah serta sarana prasarana umum lain dan kelompok ketiga adalah orang-orang yang menjarah (mencuri harta milik rakyat).

1.5. Pada umumnya penyerang mempergunakan tanda-tanda khusus seperti ikat kepala putih di kepala dan lengan, malah di Dusun Benteng Karang bendera merah putih kebanggaan kita dirobek dan diambil bagian putihnya untuk mengikat kepala.

1.6. Pada lokasi tertentu seperti Dusun Kemiri Desa Hative Besar, penyerang yang berasal dari Dusun Kemiri dalam penyerangan mempergunakan 6 (enam) buah lampu sorot.

1.7. Kaum wanita dari kelompok penyerang ada yang membawa makan (bekal) kepada penyerang.

1.8. Pada beberapa lokasi kejadian ada warga dari golongan agama tertentu beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa telah meninggalkan ruman dan keluarganya.

Dari data-data di atas, kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah penyerangan sudah disiapkan dan atau direncanakan lebih dahulu.

2. Saat penyerangan berlangsung ditemukan fakta-fakta sebagai berikut :

2.1. Sasaran penyerangan adalah membunuh warga, membakar rumah penduduk, rumah ibadah dan prasarana umum lainnya antara kelompok non muslim dan kelompok bukan non muslim (Islam dan Kristen).

2.2. Dalam penyerangan terdapat sejumlah warga yang dibunuh dan mayatnya dibuang dan dibakar ke dalam reruntuhan rumah yang sementara dibakar, wanita hamil yang dibunuh perutnya dibelah dan dikeluarkan janinnya, anak kecil disandera untuk dijadikan tameng.

2.3. Adanya keterlibatan beberapa Pegawai Negeri (instansi pemerintah dan guru-guru) dalam penyerangan ini.

Dari data-data di atas, kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah adanya niat para penyerang datang dari berbagai kelompok masyarakat yang berusaha melakukan tindakan-tindakan sadis tanpa memandang bulu dan berusaha untuk menghilangkan jejak pada korban.

3. Yang dapat dijadikan tersangka

Terlepas dari pernyatan pemerintah khususnya aparat keamanan bahwa kerusuhan ini didalangi oleh provokator, namun siapa itu provokator, akhirnya juga tidak jelas, dan mungkin saja bisa dijadikan kambing hitam terhadap kerusuhan ini dan akhirnya hilang tanpa jejak.

Sehubungan dengan itu, dan berdasarkan data-data di lapangan, dimohon perhatian terhadap hal-hal sebagai berikut :

3.1. Segera dilakukan koordinasi dengan aparat keamanan di daerah untuk mengungkapkan siapa sebenarnya provokator yang disebut-sebut dalam kerusuhan ini.

3.2. Perlu mengungkap kasus kerusuhan ini, melalui beberapa nama yang sudah disebut-sebut korban, sebagai yang ikut membunuh, membakar dan menjarah warga masyarakat yang menjadi korban kerusuhan.

4. Peran Aparat Keamanan.

Dari data yang dikumpulkan, terungkap fakta sebagai berikut :

4.1. Sebelum terjadinya peristiwa kerusuhan, Aparat Keamanan (Telaga Kodok dan Benteng Karang) memberi jaminan kepada masyarakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Namun setelah kejadian, mereka meninggalkan lokasi kejadian.

4.2. Di Dusun Benteng Karang, ada 4 petugas Keamanan yang datang saat terjadinya penyerangan, namun setelah melakukan beberapa tembakan ke udara, petugas tersebut malah memperlihatkan nama yang ada di dadanya kepada perusuh, saling berpelukan dengan perusuh kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.

4.3. Di antara Desa Hunuth dan Waiheru menuju ke Nania, terdapat 2 (dua) asrama tentara besar. Perlu dipertanyakan mengapa perusuh lolos membunuh, membakar rumah-rumah ibadah dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Dari fakta-fakta di atas, perlu diungkapkan sejauh mana peranan pihak keamanan dalam kerusuhan ini.

5. Korban kerusuhan

Dari data yang dikumpulkan di lapangan, maka untuk sementara dapat disampaikan informasi sebagai berikut :

5.1. Dusun Telaga Kodok

Luka berat: 3 orang
Luka ringan: 4 orang
Rumah penduduk terbakar: 29 buah
Gereja Katolik terbakar: 1 buah
Korban mengungsi: 42 KK (Kepala Keluarga) atau 174 jiwa

5.2. Dusun Benteng Karang

Korban meninggal: 15 orang (4 orang teridentifikasi dan 11 orang tidak teridentifikasi)
Hilang/belum diketahui nasibnya : 9 orang
Luka berat: 21 orang
Luka ringan: 28 orang
Rumah terbakar: 207 buah
Gereja: 3 buah
Pastori: 3 buah
Balai Pengobatan: 1 buah
Balai Serba Guna: 1 buah
Sekolah: 1 buah
Korban mengungsi : 209 KK (Kepala keluarga) atau 1166 jiwa

5.3. Desa Hative Besar

Rumah terbakar: 30 buah
Sekolah terbakar: 1 buah
Gudang terbakar: 1 buah
Rumah yang dirusak: 4 buah
Korban mengungsi: 31 KK (Kepala Keluarga) atau 137 jiwa

5.4. Dusun Kamiri

Korban meninggal: 4 orang
Luka berat: 10 orang
Luka ringan: ± 100 buah
Rumah terbakar: 122 buah
Mesjid terbakar: 1 buah
Mushola terbakar: 1 buah
Speed Boat terbakar: 3 buah
Korban mengungsi: 163 KK (Kepala Keluarga) atau 654 jiwa

5.5. Rombongan "Bible Camp" di kompleks Field Station, Universitas Pattimura - Hila

Korban meninggal : 6 orang

5.6. Dusun Wahatu (desa Wakal)

Rumah dirusak: 1 buah
Korban mengungsi: 3 KK (Kepala Keluarga) atau 13 jiwa

5.7. Desa Hila Kristen

Korban meninggal : 1 orang
Luka berat: 2 orang
Luka ringan: 1 orang
Rumah terbakar: 60 buah
Gereja terbakar: 1 buah
Korban mengungsi: 119 KK (Kepala Keluarga) atau 551 jiwa

III. PASCA KERUSUHAN

Kini pihak keamanan menyatakan ‘keadaan telah aman terkendali’, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  1. Perasaan tidak aman dari masyarakat/banyak isu tentang kemungkinan terjadi kerusuhan lagi,
  2. Masih terdapat mayat-mayat yang tidak jelas asal-usul pembunuhannya,
  3. Belum adanya Tim Pencari Fakta yang dibentuk secara independent dan representatif untuk mengungkap kasus kerusuhan ini, termasuk mendata korban dan kerugian yang diderita,
  4. Aparat Kepolisian tidak berperan maksimal untuk memulai pemeriksaan kasus (kalaupun ada hanya menangkap dan memproses orang-orang yang terlibat sebagai akibat mereka mempertahankan diri dan harta mereka,
  5. Pemeriksaan terhadap orang-orang yang menjadi akibat dari kerusuhan, karena mempertahankan diri, dilakukan secara tidak prosedural dengan melibatkan POM ABRI, yang menurut Undang-Undang tidak berwenang dalam proses penyidikan,
  6. Menurut informasi, Pihak Keamanan telah melakukan pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia (HAM) terhadap tersangka yang diperiksa atau mereka yang dimintai keterangan, dalam bentuk penganiayaan (pemukulan dan lain-lain sebagainya),
  7. Telah terjadi penjarahan secara besar-besaran terhadap harta milik penduduk, tanpa ada perlindungan dari pihak keamanan,
  8. Pemakaman terhadap korban yang meninggal dilakukan tanpa melalui prosedur hukum (tidak diidentifikasi),
  9. Belum ada usaha untuk mencari korban-korban yang hilang (yang belum ditemukan),
  10. Belum ada upaya untuk meminta keterangan dari pihak keamanan yang tidak melindungi rakyat, malah membiarkan perusuh menyerang, membunuh dan membakar rumah-rumah penduduk,
  11. Diantara pengungsi, ada anak sekolah dan pegawai yang belum mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya.
  12. Penanganan korban belum dilakukan sebagaimana mestinya dalam kedudukan dan martabatnya sebagai seorang manusia dan seorang warga negara, antara lain :

    12.1. Penempatan korban untuk beberapa lokasi tertentu, masih dilakukanpada lapangan terbuka.

    12.2. Makanan yang disediakan oleh pemerintah (Departemen Sosial) hanyaberupa beras dan supermi.

    12.3. Kesehatan kurang mendapat perhatian.

    12.4. Korban masih dibebani membayar harga rumah sakit.

  13. Bantuan-bantuan yang diberikan belum jelas penyalurannya kepada korban.

IV. HAL-HAL LAIN

Memperhatikan latar belakang kerusuhan Ambon, berikut pola kerjanya maka dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Secara nasional kerusuhan Ambon tidak dapat dilepaskan dari beberapa kerusuhan lain yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah lain. Karena itu pemerintah dan pihak keamanan perlu mengambil langkah-langkah untuk mengungkapkan hubungan antara kerusuhan Ambon dengan kerusuhan di daerah-daerah lain, latar belakang, siapa-siapa saja yang berada di belakang kerusuhan ini, kemudian menjelaskannya secara transparan serta mengajukan pelakunya ke depan Pengadilan.
  2. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukan adanya kecenderungan dari berbagai pihak untuk mengalihkan perhatian masyarakat, seakan-akan kerusuhan Ambon didalangi oleh gerakan separatis RMS. Hal ini tidak benar, karena itu diperlukan tindakan-tindakan konkrit untuk mengklarifikasinya.

V. REKOMENDASI

Dari hal-hal yang diuraikan di atas dirasa perlu untuk merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :

1. Agar mendesak Pemerintah Pusat dan Daerah serta pihak keamanan untuk segera mengungkapkan :

1.1. Hubungan antara kerusuhan Ambon dengan beberapa kerusuhan di daerah lain, mengungkapkan latar belakang kerusuhan, mengungkapkan para pelakunya serta menjelaskan hal-hal tersebut secara transparan kepada masyarakat.

12. Agar segera memberikan klarifikasi secara transparan tentang isu-isu yang tidak benar seakan-akan kerusuhan Ambon didalangi oleh RMS.

2. Agar Pemerintah Daerah, Aparat Keamanan di daerah segera membentuk Tim Pencari Fakta yang idenpendent (diharapkan melibatkan unsur LSM) untuk :

2.1. Mencari fakta yang jelas tentang latar belakang terjadinya kerusuhan di Pulau Ambon, jumlah kerugian materil (rumah penduduk, rumah ibadah/sarana parasarana lainnya, harta milik rakyat), korban meninggal, korban hilang dan korban luka (berat, ringan, dll).

2.2. Mengungkapkan data-data tersebut secara transparan kepada masyarakat.

3. Agar aparat Kepolisian di daerah dapat dan segera :

3.1. Memproses secar hukum para pelaku kerusuhan baik mereka yang diduga sebagai provokator, yang memberikan isu-isu yang tidak benar, para pelaku pembunuhan, penganiayaan, pembakaran dan penjarahan selama kerusuhan berlangsung.

3.2. Melakukan pencarian data dan identifikasi korban meninggal menurut prosedur hukum yang berlaku serta melakukan pencarian terhadap terhadap korban hilang atau yang hingga kini belum ditemukan.

3.3. Mengumumkan hasil-hasilnya secara transparan kepada masyarakat.

4. Agar aparat keamanan didalam penanganan kasus kerusuhan tetap menghargai "azas praduga tidak bersalah" serta menjaga harkat dan martabat Hak Azasi Manusia. Demikian pula tidak melakukan tindakan-tindakan dalam rangka mengungkapkan kasus kerusuhan Ambon dengan cara melanggar hukum.

5. Agar segera dilakukan proses hukum untuk memeriksa anggota keamanan yang memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, namun pada saat terjadi kerusuhan meninggalkan lokasi kejadian.

6. Agar pihak keamanan dapat melakukan pengamanan di tempat kejadian untuk melindungi harta milik masyarakat yang ada.

7. Agar Pemerintah Daerah segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk :

7.1. Menangani korban di lokasi-lokasi pengungsian dengan memperha-tikan tempat penampungan, kesehatan (gizi), perawatan korban yang luka, pakaian dan lain-lain sebagainya.

7.2. Menangani para pegawai negeri dan anak-anak sekolah yang tidak dapat melaksanakan tugasnya atau belum dapat kembali mengecap pendidikan, karena sarana pendidikan (sekolah) terbakar, lokasi sekolah di tempat-tempat yang rawan kerusuhan atau karena harta benda mereka musnah terbakar.

Ambon, 1 Pebruari 1999

YAYASAN SALA WAKU MALUKU

HENGKY HATTU, SH.

Direktur Eksekutif


HASIL INVESTIGASI

KERUSUHAN AMBON PADA BEBERAPA

LOKASI DI LUAR KOTA AMBON

(HUNUTH/DURIAN PATAH, WAIHERU, NANIA, NEGERI LAMA DAN KELOMPOK WARGA ULLATH DI HUTAN DESA HILA)

DITERBITKAN OLEH :

YAYASAN SALA WAKU MALUKU

YAYASAN SALA WAKU MALUKU

A M B O N

1 9 9 9

TRAGEDI PENYERANGAN DAN PEMBANTAIAN WARGA MASYARAKAT PADA BEBERAPA DESA / DUSUN

DI PULAU AMBON

A. KRONOLOGIS KERUSUHAN

Penyerangan dan pembantaian warga masyarakat yang dilakukan oleh warga masyarakat HITU, MAMALA, MORELA dan WAKAL, yang dimulai dari dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang pada tanggal 19 Januari 1999, ternyata tidak berhenti di kedua Dusun tersebut. Setelah menyerang dan membantai warga masyarakat dikedua dusun tersebut, sebagian penyerang tetap tinggal di Dusun Telaga Kodok dan Dusun Benteng Karang, yang menurut saksi mata untuk mencari dan membunuh warga masyarakat yang masih bersembunyi serta menjarah barang-barang mereka (lihat laporan seri 1).

Rombongan lainnya berjalan menuju kearah Desa Hunuth, Waiheru, Nania dan Negeri Lama (Kecamatan Teluk Ambon Baguala). Desa-desa yang disebut terakhir ini juga merupakan sasaran penyerangan dan pembantaian oleh warga Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal. Untuk tiba pada keempat desa ini, penyerang melewati 2 (dua) dusun yang penduduknya beragama Islam yaitu Dusun Sapuri dan Dusun Hulung. Diperkirakan warga masyarakat dari kedua dusun ini ikut bergabung dengan penyerang dari Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal untuk menyerang, membakar rumah-rumah penduduk, rumah ibadah, sarana dan prasarana umum lainnya, dan juga melakukan melakukan penganiayaan terhadap warga masyarakat keempat desa tersebut.-

Dari hasil pemantauan dilapangan dan investigasi para warga masyarakat, Yayasan Sala Waku dapat menghimpun sejumlah data dan fakta yang dapat disajikan sebagai berikut :

1. Desa Hunuth / Durian Patah.

Pada tanggal 20 Januari 1999, kira kira pukul 10.00 WIT., sementara mereka masyarakat Desa Hunuth / Durian Patah diliputi oleh suasana bertanya-tanya tentang kejadian pembakaran kota Ambon yang terjadi mulai tanggal 19 Januari 1999, mereka di kejutkan oleh munculnya asap tebal yang datang dari arah Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang (arah bagian utara Desa Hunuth / Durian Patah). Bersamaan dengan itu datang beberapa orang dari Dusun Benteng Karang yang memberitahukan dan sekaligus meminta perlindungan karena dusun mereka (Dusun Benteng Karang) telah diserang oleh warga Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal.

Dengan adanya informasi itu, beberapa warga masyarakat Hunuth / Durian Patah mengambil inisiatif memerintahkan para wanita, orang tua dan anak-anak untuk naik ke salah satu ponton (kapal) yang sedang sandar di pantai dan menjauh ke tengah laut.

Menurut saksi mata, saat itu ada berapa petugas keamanan yang teridentifikasi berasal dari Yon 733, yang bermarkas di desa Waiheru (kira-kira 400 meter dari Desa Hunuth / Durian Patah) sempat melewati Desa Hunuth / Durian Patah, menuju ke arah Dusun Benteng Karang. Namun beberapa menit kemudian mereka kembali. Saat mereka kembali, masyarakat sempat menanyakan tentang apa sebetulnya yang telah terjadi, khususnya di Dusun Benteng Karang, tetapi dijawab oleh petugas keamanan tersebut bahwa tidak ada apa-apa.

Sekitar jam 11.00 WIT., kumpulan asap dari arah Dusun Benteng Karang terlihat semakin tebal, dan dengan adanya informasi yang telah disampaikan sebelumnya oleh warga masyarakat Dusun Benteng Karang yang datang ke Desa Hunuth / During Patah serta terdengarnya suara-suara yang semakin mendekat ke arah Desa Hunuth / Durian Patah, maka sekitar 80 orang laki-laki dewasa dikerahkan untuk menghadang penyerang di batas desa.

Menurut saksi mata kira-kira pukul 11.30 WIT., sementara penyerang menuju Desa Hunuth / Durian Patah, muncul rombongan Petugas KOSTRAD dengan menggunakan truck melewati Desa Hunuth / Durian Patah dari arah Laha (bandara Pattimura) ke arah Kota Ambon. Mereka adalah porsenil keamanan dari kesatuan KOSTRAD Ujung-Pandang yang diminta bantuan untuk mengamankan Kota Ambon. Ketika rombongan ini melewati Desa Hunuth / Durian Patah, Pendeta dari desa Hunuth / Durian Patah sempat mencegat rombongan tersebut dengan permintaan agar mereka memberikan bantuan pengamanan. Namun oleh rombongan KOSTRAD tersebut dijawab bahwa belum ada perintah dan harus menuju ke Ambon.

Kira-kira pukul 12.30 WIT., warga laki-laki Desa Hunuth / Durian Patah yang menghadang masa diperbatasan desa, kemudian mundur menuju kearah desa untuk menyelamatkan diri karena mereka tidak mampu menghadapi penyerang yang berjumlah ribuan orang.

Menurut saksi mata, penyerang datang dengan membawa benda tajam (parang, panah-panah, tombak dan bom), memasuki Desa Hunuth / Durian Patah dengan mempergunakan strategi penyerangan dalam 3 kelompok seperti yang dilakukan di Dusun Telaga Kodok dan Benteng Karang (lihat laporan seri 1), kemudian mereka mulai melukai, membunuh dan membakar rumah-rumah dari warga Hunuth / Durian Patah, dan juga sarana umum lainnya. Saat itu warga masyarakat menjadi panik dan lari menyelamatkan diri menuju Asrama Yon 733 Waiheru untuk berlindung.

Menurut saksi mata (pendeta jemaat GPM Hunuth / Durian Patah), sementara masyarakat Hunuth / Durian Patah berlari menuju Asrama Yon 733 Waiheru, Pendeta Jemaat tersebut dengan menggunakan sepeda motor lebih dulu pergi meminta bantuan dari pos jaga Yon 733 Waiheru (jarak dengan Desa Hunuth / Durian Patah kra-kira 400 meter), dimana setibanya Pendeta Jemaat tersebut di pos Yon 733, ada sekitar 2 truck dengan petugas. Namun ketika beliau memohon bantuan, maka dijawab oleh petugas keamanan tersebut bahwa mereka diperintahkan menuju Ambon untuk mengamankan kota.

Para saksi mata juga menjelaskan penyerangan tersebut diikuti dengan penjarahan atas barang-barang milik warga desa Hunuth / Durian Patah, terutama barang-barang elektronik, yang kemudian dinaikan dan diangkut dengan sebuah mobil box (nomor polisi tidak teridentikfikasi).

Beberapa data tambahan yang sempat direkam di lapangan melalui para saksi mata, antara lain :

  1. Sekitar bulan November 1998, saat anggota Jemaat Hunuth / Durian Patah mengerjakan lahan kebun jemaat pada areal sebelah utara desa, ada seorang warga asal Buton memberitahukan kepada pendeta jamaat bahwa "di Hitu, orang-orang tua sedang mengajarkan kepada anak-anak muda, cara membuat bom, untuk menyerang kesini".
  2. Dari hasil pemantauan terhadap rumah-rumah warga masyarakat Hunuth / Durian Patah yang terbakar, terkesan bahwa, ketika penyerang berada di pertigaan jalan (Hitu, Ambon dan Laha) yang terletak ditengah-tengah Desa Hunuth / Durian Patah, penyerang terpecah menjadi 2 (dua) rombongan, dimana rombongan pertama menyerang rumah-rumah penduduk/sarana dan prasarana umum lainnya, dan seterusnya menuju ke arah Desa Waiheru (ke arah kota Ambon), sedangkan rombongan penyerang kedua diperkirakan akan menuju ke arah yang berlawanan (ke arah Laha). Strategi dari para penyerang (rombongan penyerang kedua) ini, dapat dipergunakan untuk membenarkan adanya isu sebelumnya bahwa mereka juga akan menyerang Desa Poka dan Rumahtiga. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Akibat dari penyerangan dan pembantaian ini warga Desa Hunuth / Durian Patah mengalami kerugian sebagai berikut :

Korban Meninggal : 1 orang (Ny. R.C. Hoof Mester/Polnaya)
Rumah Terbakar : 24 buah
Rumah rusak berat: 42 buah
Rumah rusak ringan: 9 buah
Kantor Koperasi terbakar: 1 buah
Kantor Desa terbakar : 1 buah
Puskemas terbakar : 1 buah
Mobil truk terbakar: 5 buah
Mobil sedan terbakar: 2 buah
Sepeda motor terbakar: 7 buah
Korban mengungsi : 36 KK (kepala keluarga) atau 508 jiwa

2. Desa Waiheru

Sama halnya dengan warga masyarakat lainnya yang merasa terkejut dengan peristiwa kota Ambon, tanggal 19 Januari 1999, maka hal ini juga dialami warga masyarakat di Desa Waiheru.

Sehubungan dengan itu, dan dalam rangka mengantisipasinya, maka pada tanggal 20 Januari 1999, sekitar jam 10.30 WIT., Kepala Desa Waiheru mengadakan pertemuan bersama dengan staf pemerintahan desa (Ketua-ketua RT/RW), dan tokoh-tokoh agama untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Sekitar pukul 11.00 WIT., sementara pertemuan sedang berlangsung, datang seorang petugas keamanan warga Desa Nania yang bernama FREDY SIAHAYA, sambil mengendarai motornya berteriak : "orang Hitu serang....orang Hitu serang ....., orang Hitu, Wakal, Mamala dan Morela telah membakar Hunuth dan Durian Patah".

Mendengar informasi tersebut, para peserta pertemuan yang berada di ruangan Balai desa Waiheru bergegas pulang kerumahnya masing-masing, mengambil anak-istrinya, meninggalkan rumah dan mencari perlindungan. Diantaranya ada yang menuju ke Asrama Yon 733 kompi A Waiheru. Sementara itu, Kepala Desa Waiheru, sdr. E. TAIHUTU, yang tetap berada di tengah jalan raya (pada jarak pandang kira-kira 100 meter dari arah Asrama Yon 733 kompi B menuju desa Waiheru), melihat kurang lebih 60 orang penyerang/perusuh yang datang menuju arah desa Waiheru dan berhenti di depan rumah ABU BALIJU (warga desa keturunan Arab), dan diperkirakan mereka sementara menunggu para penyerang/perusuh lainnya. Bersamaan dengan itu, Kepala Desa Waiheru menuju ke kompleks Yon 733 kompi B.

Menurut para saksi mata, sekitar pukul 11.15 WIT., para penyerang mulai membakar rumah Ny. MARIA MAILUHU/LEWEHERILA. Saat itu, para saksi mata yang berada di kompleks Yon 733 mendengar dan melihat rumah dari almarhum TOPI WALAIA telah dibakar oleh kelompok penyerang kedua. Saat itu anak dari alm. TOPI WALAIA beserta beberapa orang temannya mencoba untuk memadamkan api dirumahnya yang sementara terbakar, tapi, tiba-tiba muncul penyerang gelombang berikutnya dan ketika mereka melihat bahwa ada yang sedang memadamkan api, beberapa orang dari kelompok penyerang memanah orang-orang tersebut dan kena bagian kaki dari DOMINGGUS WALAIA (anak dari TOPI WALAIA). Karena kena panah pada bagian kaki, DOMINGGUS WALAIA tidak dapat melarikan diri. Saat mana DOMINGGUS WALAIA lalu dibunuh oleh para penyerang.

Ketika penyerang gelombang ketiga meninggalkan lokasi kejadian, maka adik dari DOMINGGUS WALAIA, yang bernama YOHANES WALAIA, kembali ke rumah yang terbakar dan disana ia menemukan kakaknya DOMINGGUS WALAIA telah meninggal di tepi jalan dengan luka potong di leher (hampir putus), luka tikaman pada bagian lambung, tubuh korban juga dibakar, dan ditengah jalan ada bekas korban diseret. Sementara itu ditangan korban terdapat toples (tempat kue), dan di mulut korban terdapat kue kering. Ada dugaan, tempat kue (toples) yang ada di tangan dan kue yang ada di mulut korban, sengaja diletakan setelah korban dibunuh dan dibakar.

Menurut saksi mata, ketika kelompok penyerang kembali dari arah Negeri Lama dan desa Nania, sekitar pukul 17.00 WIT., penyerang mulai mencoba untuk melempar Gereja RK (katolik) yang berada di kompleks Yon 733 Kompi A desa Waiheru, namun karena saat itu ada petugas keamanan yang berdiri di tepi jalan, pelemparan tersebut dihentikan, walaupun aparat keamanan itu sendiri tidak pernah melarang atau melakukan tindakan pencegahan.

Selain itu, para saksi mata juga menyaksikan, bahwa setelah selesai membakar rumah penduduk, Gereja serta membunuh warga desa Nania dan Negeri Lama, para penyerang pulang kembali ke Hitu dengan memikul barang-barang jarahan yang di jarah pada Desa nania, Negeri Lama dan Waiheru.

Saat itu, salah seorang saksi mata sempat menanyakan petugas keamanan bahwa : "mengapa tidak menghalangi kelompok perusuh tersebut", namun dijawab oleh aparat keamanan bahwa : "kita telah melapor/minta petunjuk, namun oleh komandan Batalyon 733, dijawab : ‘biarkan mereka, karena mereka dipanggil ke Ambon".

Akibat dari penyerangan tersebut, warga Desa Waiheru mengalami kerugian sebagai berikut :

Korban meninggal: 1 orang, (a/n sdr. DOMINGGUS WALAIA)
Rumah terbakar: 2 buah
Korban mengungsi: 2 KK (Kepala Keluarga) atau 12 jiwa

3. Desa Negeri Lama dan Nania

Dari Desa Waiheru, penyerang yang tetap berada dalam posisi 3 (tiga) rombongan/kelompok tersebut berjalan menuju Desa Nania dengan dibawa oleh aparat dengan menggunakan dua sepeda motor. Menurut saksi mata, sebelum rombongan penyerang tiba di Desa Nania, maka pada kira-kira jam 10.00 WIT., warga Desa Nania telah melihat ada asap tebal yang mengempul di arah Dusun Benteng Karang dan pada sekitar jam 11.30 WIT., terlihat asap mengempul di sekitar Desa Hunuth/Durian Patah.

Melihat rombongan penyerang datang dari arah Desa Waiheru, maka ada seorang anggota Polisi mengajak warga Desa Nania yang beragama Kristen bergabung dengan warga yang beragama Islam untuk menghadang penyerang yang akan memasuki Desa Nania. Setelah warga Desa Nania bergabung, ada seorang anggota Yon 733 yang diketahui bernama Sersan HUIK, melarang warga Desa Nania melawan masa penyerang dengan alasan "mereka hanya lewat menuju kota Ambon". Saat itu warga Desa Nania yang beragama Islam, yang terdiri dari laki-laki dan wanita berkerudung, berdiri di depan Gedung Gereja Nania dengan maksud melindungi Gedung Gereja tersebut. Saat itu waktu menunjukan kira-kira jam 12.40 WIT.

Sekitar jam 13.00 WIT., masa penyerang gelombang pertama yang berasal berasal dari Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal memasuki Desa Nania dengan menggunakan ikat kepala putih atau topi putih dengan membawa berbagai benda tajam, seperti : parang, panah-panah dan tombak. Ketika mereka melewati depan Gedung Gereja Nania, mereka disambut dengan teriakan "Allahu Akbar, … Allahu Akbar...." oleh warga Desa Nania yang beragama Islam yang sedang berdiri dan melindungi gedung Gereja, malah menurut saksi mata ada yang memberi minum kepada para penyerang. Sementara itu, warga Desa Nania yang beragama Kristen sebagian berada dalam Gereja (terutama wanita dan anak-anak), sedangkan warga laki-laki berada di lorong-lorong sekitar rumah mereka masing-masing dalam keadaan siaga.

Setelah masa penyerang gelombang pertama melewati Gedung Gereja Nania menuju arah Desa Negeri Lama, maka muncul masa penyerang kedua dan ketiga. Masa gelombang kedua dan ketiga ini diikuti oleh dua buah mobil yang teridentifikasi bernama Bailolo dan Uci MS. Jumlah rombongan kedua dan ketiga ini begitu besar dan ternyata sangat beringas, karena sambil melewati Desa Nania, mereka mulai melakukan pelemparan ke rumah-rumah warga Desa Nania, termasuk Gedung Gereja. Saat pelemparan terjadi, warga Desa Nania tidak melakukan tindakan apa-apa dan hanya melihat saja karena jumlah mereka sangat banyak.

Menurut saksi mata, pada saat masa gelombang kedua dan ketiga ini memasuki Desa Nania, ada sejumlah penyerang yang pergi menemui Bpk. J. MONIHARAPON (mantan Kepala Desa Nania), dan sambil meletakkan parang di lehernya mereka sempat memaksa beliau untuk menyebut "Allahu akbar, Allahu Akbar". Tetapi yang bersangkutan diam saja dan beberapa saat kemudian dengan membanting kaki kanan beliau berkata "Kalau bunuh, coba bunuh". Seketika itu juga kelompok penyerang tersebut lalu melarikan diri.

Kelompok penyerang ini melanjutkan perjalanan mereka ke Desa Negeri Lama dan akan menuju ke kota Ambon, karena menurut informasi Mesjid Alfatah (Mesjid Raya Ambon) telah dihancurkan oleh orang-orang Kristen.

Ketika mereka tiba di ujung Desa Nania yang berbatasan dengan Desa Negeri Lama, para penyerang melihat Bpk. CHARLES MALAWAU (seorang Purn. ABRI) masuk ke rumahnya. Dan ketika beliau keluar dari pintu rumah, penyerang langsung menyerbu beliau kemudian memotong lehernya, menikamnya dari perut secara berulang kali dan tangan bagian kirinya dipotong (hampir putus). Yang bersangkutan saat itu juga langsung meninggal.

Rombongan penyerang kemudian melanjutkan perjalanan dengan tujuan ke arah Ambon dengan melewati Desa Negeri Lama. Ketika para penyerang melewati Asrama Polisi Brimob, tepatnya berada di ujung jembatan Air Besar (Dusun Air Besar-Passo), mereka dihadang oleh warga Dusun Air Besar yang terdiri warga yang beragama Kristen dan warga Buton yang beragama Islam yang berdomisili di Dusun tersebut.

Para penyerang kelihatannya tidak mampu menahan penyerangan dari warga Dusun Air Besar tersebut dan akhirnya mereka kembali lagi kearah Desa Negeri Lama dan Desa Nania. Saat kembali ke desa Negeri Lama dan desa Nania itulah, mereka (para penyerang) yang berasal dari Desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal melakukan pembakaran atas rumah-rumah penduduk beserta Gedung Gereja di desa Negeri Lama dan Desa Nania.

Menurut saksi mata, sekitar pukul 13.15 WIT. sampai jam 15.00 WIT. terlihat asap mengempul di desa Negeri Lama dan terdengar bunyi ledakan beberapa kali di sekitar Dusun Air Besar dan Desa Negeri Lama. Kepulan asap dan bunyi ledakan terjadi akibat dari pembakaran rumah warga masyarakat serta kios minyak (bensin, solar dan minyak tanah) yang ada di Desa Negeri Lama.

Setelah puas dengan pembakaran rumah-rumah penduduk dan Gedung Gereja di Desa Negeri Lama, rombongan kemudian menuju ke Desa Nania. Saat itu, waktu menunjukan kira-kira pukul 16.00 WIT.

Di Desa Nania, rombongan kemudian membakar rumah-rumah penduduk yang beragama Kristen, termasuk Gereja yang semula dijaga dan dilindungi oleh warga Desa Nania yang beragama Islam.

Menurut saksi mata, saat penyerang kembali dari Desa Negeri Lama, penyerang baru membakar rumah ketiga yang terletak dekat dengan Kantor Desa Nania, namun dari arah Puskesmas Desa Nania, ada yang melakukan pelemparan ke arah penyerang (tidak diketahui siapa yang melempar). Hal ini yang membuat kelompok penyerang menjadi beringas dan brutal, yang akhirnya mereka melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah warga Desa Nania yang beragama Kristen.

Menurut saksi mata, diantara para penyerang, terdapat juga warga Desa Nania yang ikut membakar rumah-rumah warga Nania yang beragama Kristen, antara lain :

  1. CAKRA, siswa SMU Negeri 5 Lateri
  2. JURAIS, Ketua RT 03 Desa Nania.

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan mengenai pembakaran rumah-rumah warga Nania yang beragama Kristen yang agak jauh dari jalan raya, muncul dua versi :

Versi pertama menerangkan bahwa pembakaran rumah-rumah warga Desa Nania yang beragama Kristen diduga dilakukan oleh warga Desa Nania yang beragama Islam, karena pada saat itu, para saksi mata menerangkan bahwa mereka tidak melihat ada rombongan penyerang yang memasuki lorong-lorong di Desa Nania menuju rumah-rumah warga Desa Nania yang beragama Kristen yang berada agak jauh dari jalan raya.
Versi kedua menerangkan bahwa pembakaran rumah warga Desa Nania yang beragama Kristen tersebut, diduga dilakukan oleh kelompok penyerang yang datang dari arah Desa Negeri Lama, karena para saksi mata melihat para penyerang memasuki setiap lorong dan membakar rumah-rumah warga Desa Nania yang beragama Kristen.

Selain itu ada beberapa hal lain yang perlu dikemukakan dalam tragedi penyerangan, antara lain :

Sementara terjadi pembakaran di Desa Nania, seorang warga desa yang bernama Bpk. J. MONIHARAPON (mantan Kepala Desa Nania) mendengar suara teriakan minta tolong dari Bpk. SUMARLAN (Kepala Desa Nania sekarang) yang berada di tengah-tengah penyerang. Bpk. J. MONIHARAPON kemudian menuju ke arah Kepala Desa tersebut. Namun yang bersangkutan diserang oleh sejumlah laki-laki, kemudian dipotong dan ditombak. Di antara kelompok orang yang menyerang beliau itu dikenal 2 (dua) orang yang berasal dari suku Bugis dan beragama Islam (warga Desa Nania bernama RONALD IMRAN dan SION. Bpk. J. MONIHARAPON malah sempat merebut tombak dan bersamaan dengan itu penyerang melarikan diri dan bergabung dengan masa penyerang yang lain. Bpk. J. MONIHARAPON sempat terluka yaitu luka potong di belakang, luka goresan tombak di lengan kiri dan lecet bekas tikaman tombak di bagian perut.
Ketika terjadi penyerangan dan pembakaran terhadap Gedung Gereja Nania, para penyerang sempat masuk ke dalam Gereja, mengambil gambar (foto) Tuhan Yesus kemudian dipotong, tetapi tidak rusak. Para penyerang kemudian membantingnya dan bersamaan dengan itu mereka mengolok-olok, menghujat, menginjak-injak dengan kaki sambil memotong bangku-bangku (kursi panjang) yang berada di dalam Gereja Tersebut.
Sementara itu Pdt. PAULUS THYSEN yang lupa mengambil toga (pakaian kebesaran pendeta), yang berada di dalam Gereja, berniat kembali untuk mengambil toga tersebut, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, beliau mengurungkan niatnya untuk masuk ke Gereja, dan pada saat itu juga ada penyerang yang mengejar beliau dimana akhirnya beliau bersembunyi di teras rumah seorang warga Bugis, yang bernama BAHARUDIN. Ternyata tempat persembunyian beliau diketahui oleh penyerang dan saat itu beliau dibantai dengan jalan dipotong tangan kanan dan leher (hampir putus), kemudian oleh penyerang diseret kurang lebih 4 meter dari tempat kejadian (diletakkan di bawah pohon nangka) kemudian dibakar, yang mengakibatkan bagian tubuh sebelah kanan terbakar dan jari-jari kedua belah tangannya buntung.

Setelah menyerang, membakar, membunuh warga Desa Negeri Lama dan Nania, maka warga dari Dusun Air Besar yang sempat memukul mundur kelompok penyerang itu kemudian menuju ke Desa Negeri Lama dan Desa Nania. Setibanya di Desa Negeri Lama, mereka melihat rumah-rumah penduduk Desa Negeri Lama dan Gedung Gereja sudah dibakar oleh penyerang dari Desa Hitu, Mamal, Morela dan Wakal.

Mereka kemudian bergabung dengan masa yang ada di desa Negeri Lama, kemudian melakukan penyerangan balasan dengan membakar Kantor Pengadilan Agama serta rumah penduduk yang beragama Islam yang ada di Desa Nania maupun Desa Negeri Lama, serta berbagai sarana/prasarana umum lainnya seperti pasar. Para penyerang mencoba untuk membakar mesjid yang ada di Desa Negeri Lama namun usaha ini tidak berhasil sehingga mereka hanya merusaknya saja.

Akibat penyerangan ini warga Desa Nania dan Desa Negeri Lama mengalami kerugian sebagai berikut :

a. Desa Nania

Korban meninggal : 2 (dua) orang, atas nama :
  1. CHARLES MALAWAU
  2. Pdt. PAULUS THYSEN
Luka ringan : 1 orang, atas nama : J. MONIHARAPON
Rumah terbakar : 281 Buah
Rumah rusak berat : 17 Buah
Rumah rusak ringan : 4 Buah
Gereja terbakar : 1 Buah
Rumah Pastori terbakar : 1 Buah
Rumah guru terbakar : 1 buah (Rumah guru SD dan SLB)
Mesjid rusak : 1 Buah
Mobil terbakar : 3 Buah
Sepeda motor terbakar : 3 Buah
Korban pengungsi : 426 KK (Kepala Keluarga) atau 2056 jiwa

b. Desa Negeri Lama

Korban meninggal : 1 orang, atas nama : WEMPY MAITIMU
Rumah terbakar: 48 buah
Rumah rusak berat: 1 buah
Rumah rusak ringan: 18 buah
Gereja terbakar : 1 buah
Rumah Pastori terbakar: 1 buah
Kantor Pengadilan Agama: 1 buah
Mobil terbakar: 2 buah
Sepeda motor terbakar: 9 buah
Unit usaha kios minyak: 1 buah
Korban pengungsi : 46 KK (Kepala Keluarga) atau 201 jiwa

4. Kelompok warga Ullath di hutan Desa Hila

Pada tanggal 18 Januari 1999, kira-kira jam 14.00 WIT., 8 (delapan) warga Desa Ullath, Kecamatan Saparua, yang berdomisili di Karang Panjang - Ambon, dan masih dalam hubungan keluarga satu sama lain menuju ke Desa Hilla, selanjutnya menuju ke hutan untuk melakukan kegiatan pembersihan (pameri = istilah orang Ambon) pada dusun milik sdr. JULIUS SAPULETTE yang ia beli dari warga Desa Hilla. Kedelapan orang tersebut adalah :

  1. JULIUS SAPULETTE (pemilik dusun), umur 35 tahun, pekerjaan Pegawai Dinas Kesehatan Ambon.
  2. YACOB LUSIKOOY, umur 24 tahun, pekerjaan Pegawai Dinas Kesehatan Ambon. (keponakan JULIUS SAPULETTE)
  3. ZAKARIAS LUSIKOOY, Umur 22 tahun, belum kerja (keponakan JULIUS SAPULETTE)
  4. SALMON LUSIKOOY, Umur 18 tahun, belum kerja (Keponakan JULIUS SAPULETTE)
  5. BENJAMIN LUSIKOOY, Umur 16 tahun, belum kerja (keponakan JULIUS SAPULETTE)
  6. H. F. SIWABESSY, Umur 46 tahun, pekerjaan Pegawai Kanwil Depnaker Maluku, (saudara JULIUS SAPULETTE)
  7. BACO LITAAY, Umur 32 tahun, pekerjaan ………… (saudara JULIUS SAPULETTE)
  8. MARLON BRANDO MAAIL, Umur 18 tahun, Siswa SMU Neg. 6 Ambon (saudara JULIUS SAPULETTE).

Dengan berbekal sedikit makanan (beras, sagu mentah, bumbu-bumbuan) dan 2 tas pakaian kotor yang direncanakan untuk dicuci serta 3 buah parang untuk membersihkan dusun (kebun), kedelapan warga Desa Ullath tersebut tanpa kecurigaan sedikitpun menuju Desa Hilla, dan selanjutnya memasuki hutan Desa Hilla, dimana mereka akan membersihkan dusun (kebun) dari sdr. JULIUS SAPULETTE.

Bersamaan dengan kerusuhan Ambon yang juga terjadi pada tanggal 20 Januari 1999 di Desa Hilla, nasib kedelapan warga ini belum diketahui secara pasti.

Namun dari hasil investigasi terhadap keluarga korban, ditemukan data-data sebagai berikut :

Pada tanggal 19 Januari 1999, sekitar jam 14.00 s/d 15.00 WIT., isteri dari JULIUS SAPULETTE menelepon ke Pastori Gereja Hilla dan ia meminta bantuan dari sdr. PETRUS TAMTELAHITU untuk memberitahukan kepada JULIUS SAPULETTE, yang saat itu berada di hutan Desa Hilla agar segera kembali ke Ambon. Saat telepon tersebut, isteri JULIUS SAPULETTE sempat menanyakan keadaan/situasi di Desa Hilla, namun dijawab oleh sdr. PETRUS TAMTELAHITU bahwa : "keadaan di Desa Hilla aman-aman saja".
Pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 15.00 WIT., dari Desa Hilla sdr. PETRUS TAMTELAHITU menelpon isteri Julius Sapulete di Karang Panjang - Ambon yang saat itu diterima oleh isteri JULIUS SAPULETTE, yang mana saat itu sdr. PETRUS TAMTELAHITU menyatakan bahwa mereka telah dikepung dan mohon agar ada bantuan keamanan. Selanjutnya percakapan telepon terputus.
Mendengar informasi tersebut, isteri JULIUS SAPULETTE langsung menelepon ke Polsek Leihitu, namun dijawab oleh petugas Polsek Leihitu bahwa : "keadaan aman-aman saja".
Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh petugas di Polsek Leihitu, isteri JULIUS SAPULETTE menghubungi berbagai instansi keamanan di Ambon untuk melaporkan informasi tersebut. Namun jawaban yang ia peroleh dari petugas keamanan yaitu : "ada Polsek Leihitu".
Tanggal 24 Januari 1999, isteri JULIUS SAPULETTE kembali menelpon Polsek Leihitu, dan melalui telepon ia berbicara dengan petugas polsek Leihitu yang bernama AGUS PENTURY. Melalui telepon ia mendapat penjelasan dari Agus Pentury bahwa : "Ibu tolong berdoa dulu, kita rugi, kedelapan orang tersebut waktu pulang dari dusun (turun dari gunung/hutan Desa Hilla) diminta untuk menyerahkan diri beserta parang-parang mereka, kemudian mereka di antar ke laut, setelah itu mereka dipotong dan di buang ke laut".

Selanjutnya, pada tanggal 25 Januari 1999, ditemukan 2 (dua) mayat laki-laki yang hanyut di laut, di sekitar Desa Wakal. Kedua mayat tersebut diidentifikasi oleh masyarakat dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Mayat pertama laki-laki, mempergunakan kaus berwarna merah, putih, biru bergaris (strep-strep). Menurut isteri JULIUS SAPULETTE, korban tersebut mungkin adalah suaminya, JULIUS SAPULETTE.
Mayat kedua laki-laki, dan dari dalam sakunya ditemukan KTP dan uang tunai Rp. 2.500. Mayat tersebut diidentifikasi sebagai SALMON LUSIKOOY.

Sayangnya kedua mayat tersebut, ketika ditemukan tidak dikonfirmasikan kepada keluarga korban baik untuk diidentifikasi maupun dimakamkan.

Perkembangan dari kasus pembantaian terhadap kedelapan warga Desa Ullath tersebut, sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri yang perlu diusut lebih lanjut.

B. HASIL ANALISA SEMENTARA ADVOKASI KERUSUHAN UNTUK BEBERAPA LOKASI DI LUAR PULAU AMBON (HUNUTH / DURIAN PATAH, WAIHERU, NANIA, NEGERI LAMA DAN WARGA ULLATH (DI HUTAN DESA HILA)

Berdasarkan kronologis peristiwa sebagaimana yang diuraikan di atas, maka dapat dilakukan analisis seperti dibawah ini.

I. PRA PERISTIWA KERUSUHAN

Dari data yang dihimpun, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

Informasi yang diberikan oleh seorang warga suku Buton kepada Pendeta Jemaat Nania, saat anggota jemaat mengerjakan lahan kebun jemaat sekitar bulan November 1998 bahwa : "di Hitu, orang-orang tua sedang mengajarkan anak-anak muda membuat bom untuk menyerang ke sini", adalah merupakan bentuk provokasi yang tidak berbeda jauh nilainya dengan laporan yang pernah dilakukan oleh warga suku Buton dan Bugis yang tinggal di Dusun Sapuri dan Dusun Hulung, maupun ucapan / laporan Kepala Dusun Hulung yang mengatakan bahwa "warga Dusun Benteng Karang akan menyerang warga Dusun Hulung" adalah merupakan bentuk-bentuk provokasi yang bernuansa SARA sebagai titik awal terjadinya kerusuhan ini.

II. SAAT KERUSUHAN

Dari data yang dihimpun, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

  1. Pada umumnya, penyerangan dilakukan oleh penyerang / perusuh yang terdiri dari warga masyarakat Hitu, Mamala, Morela dan Wakal serta diperkirakan melibatkan warga Dusun Sapuri dan Dusun Hulung dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan sebelumnya.
  2. Penyerangan yang dilakukan oleh penyerang / perusuh adalah merupakan suatu bentuk penyerangan berlanjut (dari desa/dusun yang satu ke desa/dusun yang lain), baik pada desa-desa sepanjang jalan menuju ke kota Ambon, maupun ke arah Poka dan Rumah Tiga. Hal mana menunjukan adanya suatu tindakan persiapan penyerangan dan bukan sesuatu yang terjadi karena suatu tindakan yang bersifat spontanitas.
  3. Jumlah penyerang / perusuh, penggunaan alat-alat tajam saat penyerangan, penyerangan yang datang dari berbagai desa, pola penyerangan yang rapi (terdiri dari beberapa rombongan dengan fungsinya masing-masing), adanya tanda-tanda khusus yang dipergunakan penyerang (ikat kepala putih dan atau memasang kain putih pada lengan) merupakan pola dan strategi penyerangan yang betul-betul sangat terencana.
  4. Pada lokasi-lokasi tertentu (seperti pada Desa Nania) yang penduduknya terdiri dari berbagai golongan agama (terutama warga muslim dan kristen), penyerang / perusuh sangat selektif dalam melakukan penyerangan. Suatu pola penyerangan yang benar-benar profesional.
  5. Sasaran penyerangan yang dilakukan oleh para penyerang adalah warga yang berbeda agama.
  6. Pada beberapa lokasi tertentu (seperti pada Desa Nania), para warga desa yang semula menunjukkan sikap toleransi dengan sesama warga yang berbeda agama, pada saat penyerangan telah dilakukan, warga desa Nania tersebut menunjukan sikap mendukung penyerang / perusuh untuk menyerang, membakar, menganiaya atau membunuh warga yang tidak seagama dengannya.
  7. Penyerangan dilakukan dengan mempergunakan mobil, yang dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengangkut barang-barang yang akan dijarah.
  8. Adanya persiapan-persiapan seperti : alat pelindung tubuh dan makanan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh para penyerang / perusuh.
  9. Adanya indikasi penyerang ingin menghilangkan jejak para korban yang dibunuh dengan jalan membakar atau membuang korban ke laut.
  10. Penyerangan dilakukan hampir dalam waktu yang bersamaan dan secara berturut-turut.
  11. Penyerangan balasan yang dilakukan pada beberapa lokasi tertentu (seperti penyerangan oleh warga Dusun Air Besar - Desa Passo, melalui tindakan pembakaran Kantor Pengadilan Agama di Desa Negeri Lama dan rumah-rumah warga yang beragama Islam di Desa Nania) adalah merupakan tindakan emosional atas tindakan penyerang / perusuh.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Penyerangan yang dilakukan oleh para penyerang / perusuh merupakan suatu tindakan yang telah dipersiapkan dan atau direncanakan terlebih dahulu.
  2. Motif penyerangan bertendensi SARA yang dipicu oleh suku tertentu dengan mempergunakan agama sebagai sumber komoditi dalam perpecahan.
  3. Pembakaran rumah-rumah warga dan Gedung-gedung Ibadah, penganiayaan dan pembunuhan warga dari agama tertentu merupakan pemicu dari warga dan agama yang lain untuk melakukan tindakan penyerangan balasan.

III. PERAN APARAT KEAMANAN

Dari data yang dihimpun, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

  1. Walaupun telah terjadi kerusuhan / penyerangan yang dilakukan oleh penyerang / perusuh, aparat keamanan selalu memberi jaminan bahwa "tidak terjadi apa-apa" (bandingkan sikap anggota Yon 733 - Waiheru yang memberi jaminan kepada warga Hunuth / Durian Patah).
  2. Adanya sikap aparat keamanan yang melindungi perusuh / penyerang (bandingkan sikap aparat yang mengantar para penyerang / perusuh dalam perjalanan).
  3. Adanya sikap aparat keamanan yang tidak melindungi rakyat pada saat rakyat berada dalam keadaan tidak aman (bandingkan sikap anggota KOSTRAD saat mereka melewati desa Hunuth / Durian Patah, atau sikap aparat Yon 733 - Waiheru yang tidak ingin membantu rakyat pada saat penyerangan terjadi atau malah berjabat tangan dengan para penyerang).
  4. Adanya sikap aparat keamanan yang mau melindungi rakyat jika ada perintah atasan langsung.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, naluri intelegen dari aparat keamanan sangat lemah, dan atau aparat keamanan lebih cenderung membiarkan atau ikut memberi kesempatan kepada penyerang / perusuh untuk membantai pihak yang lemah atau saling membantai satu sama lain di antara warga yang berbeda suku dan agama.

IV. PASCA KERUSUHAN

Setelah berakhirnya peristiwa kerusuhan, muncul beberapa masalah, antara lain :

  1. Adanya perasaan tidak aman dari masyarakat, karena munculnya isu tentang kemungkinan adanya kerusuhan-kerusuhan lanjutan.
  2. Akibat kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda, serta adanya isu-isu tentang akan munculnya kembali kerusuhan, banyak warga masyarakat yang mencari tempat perlindungan pada berbagai lokasi yang oleh mereka dirasakan aman, khususnya di kompleks-kompleks militer.
  3. Telah terjadi eksodus secara besar-besaran dari warga Buton, Bugis dan Makasar, serta beberapa suku lain yang kembali ke daerahnya, sementara warga suku Ambon, ada juga yang pulang ke kampungnya masing-masing.
  4. Eksodus secara besar-besaran oleh suku Buton, Bugis dan Makasar tersebut telah diikuti dengan tindakan pembakaran rumah-rumah mereka sendiri, seperti yang terjadi di Desa Hunuth / Durian Patah pada tanggal 6 dan 7 Februari 1999, dimana warga Buton yang akan melakukan eksodus telah membakar rumah-rumah mereka sendiri. Apa yang menjadi latar belakangnya, perlu mendapat perhatian dari aparat keamanan untuk diungkapkan lebih lanjut.
  5. Aparat keamanan (terutama dari pihak Kepolisian dan POM ABRI) belum bersungguh-sungguh menunjukan sikap profesionalisme, untuk berusaha mengungkap latar belakang kasus ini serta memeriksa pihak aparat keamanan yang diduga keras memberi kesempatan, melakukan, membantu melakukan bersama-sama penyerang atau pada saat penyerangan / kerusuhan, dan tidak memberikan perlindungan kepada warga masyarakat.
  6. Penanganan pengungsi oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tidak transparan, malah terkesan sangat tidak profesional. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sumbangan yang diberikan kepada para korban, namun kondisi penampungan, makan/minum, kesehatan dan lain-lain kebutuhan dari pengungsi relatif masih memprihatinkan.

V. REKOMENDASI

Berdasarkan uraian-uraian, maka dipandang perlu untuk merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Agar pihak keamanan segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberikan jaminan keamanan terhadap warga masyarakat.
  2. Agar pihak Kepolisian dapat mengusut kasus kerusuhan ini secara tuntas dan profesional dan transparan; serta segera melakukan upaya-upaya untuk mengungkapkan status para korban yang belum secara pasti diketahui keberadaannya.
  3. Agar pihak POM ABRI segera melakukan pengusutan terhadap para anggota ABRI, yang dengan jelas-jelas memberi kesempatan, melakukan atau membantu melakukan penyerangan bersama-sama para penyerang / perusuh, atau setidak-tidaknya melalaikan kewajiban mereka untuk melindungi rakyat.
  4. Agar pihak keamanan segera mengusut latar belakang pembakaran rumah-rumah beberapa warga suku Buton di Desa Hunuth / Durian Patah yang dilakukan oleh mereka sendiri pada tanggal 6 dan 7 Februari 1999, guna mengungkap latar belakang terjadinya kasus tersebut.
  5. Agar Pemerintah Daerah segera memberi perhatian secara serius bagi para pengungsi serta mengumumkan secara transparan realisasi penggunaan bantuan dari berbagai pihak.

Ambon, 13 Februari 1999

YAYASAN SALA WAKU MALUKU

HENGKY HATTU, SH.

Direktur eksekutif

THE RECENT UNREST IN AMBON ISLAND AND IT’S SUROUNDINGS

Rev. Jacky Manuputty

CHRONOLOGIES

1. TUESDAY, 19 January 1999

Burnt down and destroyed :
- 3 cars
- 10 motorcycles
- 4 houses
- 1 church (Nehemia Church).

At 15.00pm. The villagers of Batu Merah dalam (Christian) was attacked by the villagers of Batu Merah (Moslem). They launched an attack for the second time at 19.25 PM to the same village and neighbor village Mardika (mostly Christian).
At 17.45 PM, the people of Waihaong and Soabali 2 km from Batu Merah made an attack on Christians of the same village. Reported :
- 15 cars and 20 motorcycles were burnt down
- 1 church (Sinar Kasih Church)

At the same time, in other place, the Moslems thrown at with stones the Protestant Bethlehem Church (window glass broken) – 1,5 km from Batu Merah.

At 20.00, the Moslem approximately 40 people passed through the Kayu Buah alley to attack Silo Church ( 0.5 km from Waihaong ), but they was chased away by young Christians.

2. WEDNESDAY, 20 January 1999

At 03.00 am there was a skirmish between Christians and Moslems at Mardika square (in front of the governor office) – 30 meters from of town. In this action, the Moslems wanted to burn Maranatha Church (center church of Moluccas province), which located near the Mardika square but the Christian who guarded the church, succeed to chased them away.
At 08.00 am, the villagers of Wakal and Hila (Moslems), while yelling : " Allahu Akbar…..Allahu Akbar " attacked Hila villagers. They throwing the houses with stones and burning the oldest church in Moluccas province and constitutes one of the tourist resort in this island.
At 09.30 am, the villages of ; Hitu, Mamala, Morela, and Wakal heavily armed with weapons ; sword, samurai, arrows, bombs, etc – some of them using shield for combat – attacking the villagers at Telaga Kodok, mostly Christian (about 5 km from Hitu,Mamala, dan Morela). They burning down the houses by using bombs, destroying a Catholic Church and 3 Protestant Churches.
At 10.00 am, the village of Wakal, Hila, Mamala and Morela (Moslems) were about 3000 people, lead by a police officer attacked the Benteng Karang villagers (not far from Telaga Kodok). In this action they tortured a pregnant woman (six month pregnancy), they sliced her stomach, took the baby out and chopped it to pieces. 60 people were butchered, the houses were burnt down, including 4 Churches.
At 12.30 the same village of Wakal, Hila, Mamala and Morela, attack Hunuth/Durian Patah villagers ( 2 Km from Benteng Karang ). Until 13.00 PM they had killed 2 villagers and 65 Christians house were destroyed and burnt down.
At 13.00 They march passed through 3 Army Stations 733 : A Battalion, B Battalion and Added Battalion to Nania ( 2,3 Km from Hunuth/Durian Patah). In Nania two villagers were killed including Protestan Ministry, Rev.P. Thysen while praying in the church.

3. THURSDAY , 21 January 1999

At 07.21 am, the Moslems at Jalan Baru (0,5 Km from center of town) were intruding the Christians neighbor them with stones.
At 17.00 PM – 20.00 PM, the villagers once again try to burn the house of Manuel Family by using fired arrows. Mean while, on the other place at 18.00 PM the villagers house (Christian) at Wakal were thrown at with stones by the Moslems.
At 20.00 PM the Moslem kept on trying to burn Silo church. At this time they used a fire stove and throwing it against the church, yet can be stopped by Christians. Ironically, Wirabuana Kostrad (Armed Forces) as many as three trucks which has arrived at Trikora monument make no prevention on the action. The Army just watched the incident and lived the location.

4. FRIDAY , 22 January 1999

At 10.00 am simultaneously the Moslems from Soabali and Jalan Baru tried to attack the mainly Christian villagers at Air Mata Cina, Pohon Puleh and to Silo church. At the same time there was skirmish at Wayame (25 Km. From the center of Town) and Ahuru (3 Km.From the center of Town). A lot of house were burn down. On the other places, the Moslems at Ponogoro (0.8 Km. From the center of Town) (kuburan tinggi) attacked the villagers at Mangga Dua by throwing the actually, there had been a peace agreement among them.
At 15.00 PM – 15.15 PM Again the Moslems from Soabali and Jalan Baru tried to attack, yet been prevented by the Army who made a warning to an open air.

5. SATURDAY, 23 January 1999

At 11.00 am – 11.30 PM. There was effort from Ponogoro (Moslems) to attack Mangga Dua villagers. When the action took place there came along government officials escorted by the military officers. Several military officers shot to an open air as a warning, yet there was an officer aimed his gun to the people and shot a young women, she was killed by bullet on her breast.
At 14.00 PM At Gudang Arang there was a quarrel between the army and the people. In this incident 7 young man wounded and 1 military killed.

6. SUNDAY, 24 January 1999

Approximately at 02.00 am, incoming information, informed a quarrel between 2 villagers, Liang (Moslem) – 30 km from the center of town – and Waai (Christian)- 30 km from Liang village, but they were expelled by the security officers.
Member of Military Police,Sergeant Major Ismail who trespass a house in Batu Gantung (Ganemo village) – 1.5 km from center of Town – and attacked Mr.Ulis Lainata without any reason and rise the anger of the people of the neighborhood (according to the neighborhood association/RT 002.Mr.Tabaleko’s Report).
The Armed Forces of 731 Battalion assigned at Silo Church confiscate two knifes carried by a Christian youngster in a small pickup. They were inspect and hit by the officers that lead to mistreating.

7. MONDAY , 25 January 1999

At 09.15 am. Mrs.Latul who were shopping at the Mardika market (in front of Rijali health district) were threatened with a knife by a big group of people; they said to her " You have killed some of us, and now it is our turn to kill, the stalls no longer ours, and then you came here to do shopping at ours.

Since the incident occurred in 19-25 January 1999, the Moslems immediately proceeded necessary protection to Christian community to prevent them from any possible further violence, before being secured to evacuation places by the security guard, as what the Christian did also to the Moslem families.

8. TUESDAY, 2 February 1999

Two young Moslem fought in Pasar Mardika (so called of one traditional market in Ambon). People around the fighting location got panic that eventually widespread and influenced the people around the city. They then gathered armed by knives. This strained situation continued when the Facts Researcher Team from Indonesian National Commission on Human Rights arrived in Ambon. The delegation were blocked by the armed people when they tried to observe the location in Batu Merah Dalam

9. WEDNESDAY, 3 February 1999

The riot broke out in Kairatu, Seram island, began when two man from different religion fought. This shortly then changed to be a mass riots. Christian people burnt the markets and the residence of Moslem groups. This then continued on the day after (4 February) when the Christian (from Kamarian village, a few kilometers away from Kairatu) attacked Waralohi village as the ethnic group of Buton (Moslem) residential place.

Day after day became so strained in Ambon, caused either by the issue widespread that the Christian villages would be attacked, the repressive action from the army (especially from the powerful special force in Indonesian Army named Kostrad and particular units from the Police that arbitrarily arrested, shot, beaten and tortured Christian people – see appendix 1 dated 6-12 February 1999)

10. SATURDAY, 13 February 1999

Governor of Maluku met the leaders as the representative of religion, community and youth groups to obtain any permanent peaceful solution of the ongoing conflicts. Then approved that the local governmental board (Muspida) and the religion leaders should pay a sort of reconciliation visit to all residences/villages of Christian and Moslem groups. To facilitate the program, a technical team established to organize the schedule of the visit with 6 members, each 2 person represented Moslem, Christian and Catholic groups.

11. SUNDAY, 14 February 1999

Around 4000 Moslem people from Pelauw, Kailolo, Kabau, Rohomoni and Ori villages attacked the neighbor Christian village, Kariau, in Haruku island. Tens were killed and injured, 2 churches and all the houses burnt (see appendix 1 dated 14 February 1999). It can be said that the name of Kariuw village almost vanished from the map. The only thing remained is the church tower standing without its bell. It was considered as an unexpected incident because the villages of Christian and Moslem around Kariuw have an agreement not to attack each other. However, this sudden attack already shattered the agreement. Since 19-23 February 1999, there were various kind of violations done by the army along with the Moslem people towards Christian group (See appendix 1 dated 19-23 February at 10.15 local time)

12. TUESDAY, 23 February – THURSDAY, 25 February 1999

Moslem mass from Batu Merah Bawah and Galunggung attacked Christian people in Batu Merah Dalam. This horrifying action suppressed the Christian people that trapped in a valley as the aggressors were backed up by the army. Any assistance effort and food were stopped and blocked and for those who tried to escape and rescue shot by the arm guard. Even some people and the priests who hid in the church building not free from the gunshot of the guard. (See the appendix 1 dated 23-25 February - the list of victims were arrested and shot by the army). The situation got calm before midnight.

In Saparua island, the people in Noloth village (Christian) clashed with the people from the Iha village (Moslem). It resulted several victims by the arrow and gunshot of the army. (See appendix 1 dated 23 February) Around 20 kilometers away, Moslem people from Tulehu and Liang villages attacked Christian village, Waai. Three victims from Waai village, while the people from Liang and Tulehu village kept the number of victim from their villagers secretly. Around tens people were killed and injured either stabbed by the swords, exploding bomb or shot by the arm guard. Tens houses were damaged and burnt.

13. FRIDAY, 26 February 1999

The aggression to Christian people were continued in Batu Merah Dalam. Every effort and initiative to escape from the killing field always prevented and blocked by the arm guard, while the assistance given by the Christian community from other villages also forbidden and stopped (See appendix 1 dated 26 February). There were about 40-50 people successfully escaped from the siege and went to Communication Center post (Maranatha). Then they initially proceeded the demonstration to the Army Station to protest the discriminative action and attitude shown by the arm force. They were further joint by other Christian people on the way to the station that the number of the participants became 1000 people. The Military Regional Commander accepted them to have a dialogue. After that, the demonstrates went to the Police Station with more participants. That was the first demonstration held by the Christian group to protest the discriminative attitude of the arm guard and police.

14. WEDNESDAY, 1-3 March 1999

Moslem people from Galunggung village and surrounding area attacked Christian people in Rinjani village, Karang Panjang. Several people were injured by the sword, while tens of houses burnt when the attacked suppressed people back to attack the aggressor. The arm guard who tried to stop the riots by warning shot, finally had to release the flat shooting when the people just ignored the warning. Some victims fell from Moslem side by the gun shot of the army, as well as from Christian people who re-attack in the riots. This incident was reported by The Head of Religious Affairs of Maluku Province to the Minister of Religious Affairs and further to the President, that Moslem community who were performing their dawn prayer in the mosque shot by the army. This incorrect information spread out by the publication of the mass media, unexpectedly has influenced the initiators of Jihad (Holy War in Islam) to gather and mobilize the religious sentiment among the youth Moslem groups and Moslem students in many cities in all over Indonesia. The call of Jihad then changed to be a wave of anti-Christian, especially in Jakarta, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bandung and Ujungpandang. As the result, 2 churches in Bandung were destroyed by the mass riot (7 March 1999). In Ujungpandang, Christian people had been terrorized, meanwhile, students in Hasanudin University held the demonstration while throwing the stones to the church buildings, Christian universities and Student Center of Indonesian Student Christian Movement in Ujungpandang branch. Various threat and terror conveyed to Christian people also happened in Jakarta, Yogyakarta and Salatiga (particularly in Christian University of Satya Wacana). The strange thing is, the threat and call of Jihad still continued although the mass media has released the correction of the wrong news about the shooting in the mosque. (See appendix 1 dated 1 March 18, 1999 – the incident of Petra church in Ahuru). Another violence towards the Christian also occurred during 1-3 March 1999 (See appendix 1 dated 1 March 1999, the incident in front of Al-Fatah Mosque, Pohon Puleh bridge and near the Silo church)

15. THURSDAY, 5-6 March 1999

Following violence again happened on 5 March and victimized Christian community that slaughtered, stabbed by the sword and the many effort to forcedly vanish the Christian people. (See appendix 1 dated 5 and 6 March 1999). At the dawn time in March 6 1999, there were several bombs exploded in Silo church that invited Christian people to move again on the streets around the church. One car filled by the several non-uniform-dressed of army which happened passing the street forcedly stopped to be examined. Suddenly, the army got off the car and started to shoot the people (see appendix 1 dated 6 March 1999 – the incident in Silo church). The gun was also aimed to the church Silo building. This was the third shooting by the army from special force in Indonesian Army named Kostrad and police directed to the church building.

16. SUNDAY, 7 March 1999

Numbers of violent actions again occurred all day long. At around 23.30 PM, the aggression towards the Christian happened in Benteng Atas, commenced by the scream of Allahuakbar. With the reason to avoid any clash, the Christian people who put their position to front the aggressors, were forcedly commanded to back up by the army by opening fire aimed to the air. However the attackers who gathered and moved behind the arm guard used this moment to burn the houses which left by the Christian people. Then, additional troops came from Marine and Brimob units and tried to break up the mass who burnt the houses by releasing the shooting to the air. It effectively dispersed the crowd and ran to the mountain and forest.

17. MONDAY, 8 March 1999

The incident in March 7 extended by the attack and burning of the houses by the two parties. It was very strained around the area. In Passo village, 20 kilometers away from Benteng Atas, one sniper driving a car passed shooting the community (See appendix 1 dated March 8 – the incident of Haji/Moslem Hostel, Air Salobar). The people was burnt by the anger and destroyed the suspected cars. Meanwhile, from Christian Communication Center spread an information that the call of Jihad already ordered to all Moslem in Ambon. Obviously this information made them acted more aggressively and various violence broke out in the city.

18. TUESDAY, 9 March 1999

The Minister of Transmigration and Forestry paid visit to Ambon and held the dialogue with the representative of religions, youth, NGO, students, local governmental board of Maluku province and county of Ambon level. There were two main agenda of the meeting : fristly to socialize the transmigration program for the victims of the Amber and secondly, to give a general description of the Ambon incident. According to the Minister, that the mastermind and provocateur of this particular incident is the RMS (movement of independence state in Maluku named Republic of South Maluku). This opinion did not accepted by the participants, particularly by the representatives of youth organization and students, as there was no evidence considered in reference with this and can possibly give an obstacle and influence the effort of finding solutions to end up the riots. They as the alternative, urged the Minister to see and observe the location and to think over the program of transmigration as this program regarded will not give any empowerment, but will increase the poverty to the indigenous people instead. It can be presumed that this dialogue will not give any benefit to the people in Maluku. In the afternoon, Moslem people felt a tense situation in Diponegoro Dalam and they burnt some houses left by the Christian people

19. WEDNESDAY, 10 March – THURSDAY, 11 March 1999

Since March 10, a sporadic aggression extended by the Moslem people and the army toward the Christian community in 3 different locations ( See appendix 1 dated 10 March – the victims killed and injured by the gunshot of the army in Benteng Atas, Air Mata Cina and Urimessing). In the evening, an old man named Jacob Somnaikubun slaughtered in his own house, in Kebun Cengkeh area, and killed with his head almost separated from his body.

20. SUNDAY, 14 March 1999

The marine troops (Navy) who tried to pacify the area around Silo church and Al-Fatah mosque asked the community and religion leaders to hold a peaceful meeting. This positively welcome and therefore, at 21.30 – 23.00 an ensemble meeting settled and the following agreement determined during the meeting:

  1. To rebuild and recreate the closeness and togetherness among the two side that preceded by the feeling of regret from all people
  2. To prevent any outsider who try to enter their secured place of each group.
  3. To strip all people of their weapons and sword on Tuesday, March 16 1999
  4. To build a post together with Marine units located behind the Silo church building, right behind the burnt place (Jalan Baru)




1 komentar:

  1. Meninggalkan mereka punja negeri lama
    dan turun te pantai.

    De 5 kapitans verlaten hun dorp
    vanuit de bergen, en gingen naar
    de kust.


    Mereka tinggal ditempat jang berlokasi dipekuburan Kamarian, dulu namaha Hua Wei.

    Zij verblijven op de locatie bij het
    graf van Kamarian, dat gebied
    heette vroeger Hua Wei.


    Seorang perempuan dari kapitan Pentury, kawin dengan kapitan (radja Kamarian),
    jang ketika itu bernama Amalohi.

    De dochter van kapitan Pentury trouwde met
    kapitan Amalohi(radja Kamarian)


    De kleinkinderen leven niet op goede voet met elkaar, daarom gingen
    ze verhuizen naar de plaats waar nu het huidige dorp Seruawan is.
    Toen heette die plaats:

    Nurua Rima Selai

    dit betekent:
    Lima jang turun dari dataran tinggi pegunungan Sela
    (Vijf die vanuit het gebergte Sela naar beneden gingen)

    Later werd de naam Nurua Rima Selai veranderd in Seruawane (= kenal kawan)

    Seruawane werd verbasterd tot
    Seruawan

    BalasHapus

Isilah Komentar di atas

Bagaimana pandangan anda dengan hadirnya blog ini?